Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2018
S udah berulang kali aku katakan bahwa tidak semua akan sejalan dengan yang diharapkan Kamu tahu, hal bodoh yang sering kamu ucapkan? Adalah tentang kamu yang selalu merasa tidak berguna Tentang kamu yang pernah berpikir menyerah Dan tentang kamu yang ingin mengakhiri segalanya Maafkan. Aku benar tidak tahu, kamu semenyedihkan itu Aku tahu, ini jelas terlambat Masihkah aku dikatakan sebagai seorang teman? Sementara kamu sudah jatuh terlalu jauh, sangat jauh, sampai sulit kembali untuk meraih Kamu sudah berusaha dengan sangat keras Setidaknya, walau terlambat, aku ingin sekali memuji Entah siapa yang harus disalahkan Tapi aku menyesal Membiarkan semua yang tampak terlihat baik, tapi sebaliknya Kamu benar mengakhiri segalanya Aku benci Kabar terakhir darimu, tentang kamu yang telah pergi tanpa pamit Menyisakan kesedihan yang sangat mendalam Tenang disana Teruntuk kamu, teman yang jahat

Tidak Tahu Hati

Tentang yang sulit ditebak Yang dulu selalu ada Memberi semangat Memberi petuah Bahkan memarahi jika salah Tapi sayang, seribu sayang Aku tidak tahu hati Kemudian menutup diri Memutus semua Menjadi pura-pura lupa, bahwa pernah dekat Menjadi lupa memori indah saat kecil Menjadi sangat jauh dan tak terlihat Menjadi kamu yang bukan Hai teman, apa yang salah?

Hai Langit, apa kabar?

Hai Langit, apa kabar? Hari ini sangat cerah, seharusnya aku tidak perlu bertanya Aku disini baik Dan masih tetap menjadi pengagum setiamu Hai Langit Mengapa kamu terlalu tinggi Sampai-sampai sangat sulit menggapaimu dari sini Tapi melihatmu dari jauh, sangat menyenangkan Maafkan, kemarin-kemarin aku mengabaikanmu, karena terlalu sibuk mencari tempat sembunyi Aku bahkan tidak tahu, kabarmu kemarin Kamu, secerah hari inikah kemarin? Sejujurnya aku ingin sembunyi. Tapi aku rasa dimanapun aku sembunyi, kamu pasti tahu. Bukankah di atas sana, akan terlihat semuanya? Bodoh. Terimakasih karena selalu memperhatikanku di atas sana.

Kenapa takut akan persepsi orang? Kamu hidup untuk diri kamu sendiri. Mereka hanya penonton drama yang mana kamu adalah pelaku utama. Mereka mana tau isi naskah, apalagi cerita dibaliknya. Mereka tidak tahu dan mungkin tidak mau tahu. Aku tekankan mereka bukan penentu kehidupan kamu. Sulit. Memang. Tapi, tanpa mereka pun drama yang kamu perankan tidak akan menarik. Justru itu aturan mainnya. Mari kita mainkan sesuai naskah, menikmati setiap adegan kehidupan.

Putra Bungs
Selalu saja ada kesempatan kelima, keenam, hanya saja, kamu terlalu lelah dan sulit untuk memulai kembali karena terlalu sering jatuh. Boleh rehat dalam beberapa waktu, karena hitungan tak selesai sampai disitu. Tapi, jangan terlalu sering dan terlalu lama. Karena dihitungan tertentu, kamu akan dikejutkan oleh sesuatu yang entah kamu harapkan atau tidak sama sekali. Tapi percayalah, itu yang terbaik, buah dari usahamu.
Ketika pintu sudah tertutup rapat dan terkunci, kemudian kembali ada yang mengetuk, dirasa perlu sedikit waktu untuk membukanya. Selain karena harus membuka kunci, seseorang akan berpikir, apakah ia akan membuka pintu tersebut sementara yang sudah-sudah, ia pernah kecewa karena pernah membukanya. Apa salahnya mencari kembali kunci dan membuka pintu, sementara tak tahu siapa dibaliknya. Dan lihat apakah orang yang sama ataukah justru orang yang baru. Semua pilihan. Menyuruhnya masuk atau mempersilahkanya untuk keluar.
Mereka bilang, kita tidak bisa kembali pada kali kedua. Mereka mengibaratkan piring pecah yang susah kembali bersatu dengan sempurna, hanya dengan lem. Tapi bukankah itu baik? Sementara dari kita masih berusaha kembali menyatu, dan sementara diantara mereka membiarkan pecahan itu berserakan serta melukai dirinya sendiri pada akhirnya? Mungkin tak sesempurna dulu, tapi berusaha menyatu di kali kedua ini, setidaknya, ada kebaikan kecil diantara kita, untuk tetap menjaga hubungan baik, dan berusaha memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki.