Sampai saat ini belum pernah lupa 'rasanya'. Kenapa ya perasaanya konsisten? Padahal ya, padahal seharusnya sih secepatnya segera hilang. Tapi semakin hari semakin diputuskan untuk menjauh, semakin tidak ingin tahu, tapi tetap saja. Dosa besar memang tapi aku juga tidak tahu harus apa, karena segala upaya dan doa tentunya tidak pernah terlewat. Kalau dipikir-pikir, kenapa ya? Tapi tidak usah takut. Aku masih waras. Aku tidak pernah terpikir melewati batas. Kepada diri, mohon segera lupa. Ini cape. Bukanya hidup harus terus kedepan kenapa kamu tetap disitu, San?