Langsung ke konten utama
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya.


Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu benar. Walaupun kedepannya kita ga pernah tau tentang jalan takdir kita, setidaknya dia sudah tegas untuk pertama dan terakhir kalinya tentang keputusannya demi kebaikannya dan mungkin demi kebaikanku juga. Mungkin aku terlambat menyadari, tapi aku belajar tidak akan menyalahkannya lagi, karena sejak awalpun dia tidak pernah tegas dan menjanjikan aku apapun.


Aku juga percaya takdir selain kematian, itu bisa diubah asal kita percaya bahwa kita saling mengusahakannya terlebih dahulu, bukan "Kalau takdir ga ada yang tau, kan?," Ya kan memang, siapa yang tau takdir, tapi berusaha kan ga ada salahnya. 

Gapapa, mungkin seperti biasa, kamu memang belum beruntung untuk satu dan hal lainnya. Tapi, bahkan sampai detik ini pun, kamu adalah orang yang tulus, San. Setidaknya kamu sendiri tau akan hal itu, kamu tulus. Hal-hal lainnya, selain dirimu, memang sulit di kontrol. Sama seperti buku-buku self development yang sering kamu baca itu, kamu hanya bisa mengontrol dirimu sendiri, tentang caramu bersikap dan memaknai banyak hal. Tentang orang lain, biarlah mereka, memaknainya dengan cara mereka. 

Kita mulai lagi jalan dari awal, makan enak, minum kopi kesukaan, nonton zombie, lari pagi, solo trip kan katanya kamu mau solo trip San, juga jangan lupa untuk selalu menikmati apapun tiap detiknya dihidup kamu, walau seringkali lebih banyak sedihnya, dibanding bahagianya. Luka dan traumanya mungkin tidak akan sembuh, tapi bisa jadi kamu hanya hidup bersama rasa sakit itu, selama mungkin. 

Ceritanya memang bukan untuk diakhiri, karena bagaimanapun bayangannya akan tetap ada. Dia pernah hadir beri kebahagiaan, kesedihan juga luka. Mungkin ini cuma tentang bab baru, yang mungkin dia tidak hadir lagi di bab selanjutnya. Perannya juga mungkin tidak akan pernah digantikan oleh siapapun, karena tiap-tiapnya memiliki peran yang berbeda. Kalau-kalau memang, tanpa terduga dia hadir di salah satu bab lagi, semoga, kita dipertemukan dengan versi terbaik kita. Dengan masing-masing yang lukanya sembuh, dengan masing-masing yang saling memaafkan.

Gapapa, ini bukan pertama kalinya, kita mulai lagi dari awal ya?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...