Langsung ke konten utama

Adiku yang selalu pulang malem

Entah sejak kapan adik aku jadi suka kabaret yang jelas, semenjak dia suka kabaret dia suka pulang malem.

Awalnya, aku dan keluarga membiarkan dia untuk ikut kabaret itu tapi karena lama-kelamaan pulangnya semakin malem dan bikin resah akhirnya kita gak menyetujui lagi dia untuk ikut kegiatan kabaret. Orang tua mana sih yang membiarkan anaknya selalu pulang malem?

Aku selalu ngelarang dia untuk ikut kabaret itu. Tapi dia selalu ngelawan dengan segala argumennya dan jelas aku dan kedua orang tua aku seolah-olah kalah dengan berbagai argumennya itu. Adik aku ada tipe watak yang keras dan selalu gak mau kalah. Kedua orang tua aku udah bingung gimana caranya ngasih tau dia untuk berhenti ikutan kabaret itu. Emang sih, dengan ikut kabaret itu dia dapet uang dari hasil manggungnya. Tapi, masalahnya adalah dia selalu pulang larut malem. Hey, anak umur 15 tahun loh. Gak enak dan gak pantes untuk anak seumuran dia pulang jam segitu. Belum lagi diliat tetangga. Mereka mah mana tau adik aku pulang kabaret, takutnya malah mikir yang aneh-aneh.


Oke, masalah lain adalah bukan itu. Hal yang penting adalah tentang kesehatan dia. Aku selalu takut masalah ini karena dia gak suka minum obat aku selalu khawatir sama dia. Belum lagi kalo gak ke kontrol, dia suka ngelewatin sarapan pagi. Buat aku itu adalah hal yang penting buat kesehatan dia.
Dan masih banyak masalah-masalah lain yang akibat dia main kabaret tapi yang paling utama adalah aku ngerasa kasian sama orang tua yang selalu nunggu dia pulang malem padahal mereka cape udah kerja seharian.

Sampai pada akhirnya, aku memutuskan untuk ngobrol empat mata sama dia.
Aku ngobrol dan nasehatin dia. Aku berharap setelah ini dia gak ngelakuin hal yang serupa lagi kedepannya. Ini buat kebaikan dia, bukan buat kebaikan aku. Seorang kakak kan tugasnya membimbing adiknya, setidaknya inilah salah satu caranya.


Ah, gak tau lagi deh cerita apalagi ..
Intinya ya kita liat aja, apakah setelah aku nasehatin dia berubah atau engga. Kalo engga, aku akan bertindak lebih lanjut.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...