Langsung ke konten utama

Terimakasih untuk cinta kalian~~

Yaps, dua bulan lalu tepatnya tanggal 19 Juli-19 Agustus aku KKN di Desa Kodasari Kabupaten Majalengka. Jadi, awalnya aku merasa takut kalo temen-temennya pada nyebelin. TERNYATA ENGGA SAMA SEKALI. Jujur. Aku bersyukur kenal dan bertemu mereka semua. Aku bersyukur karena Tuhan mempertemukan kita dengan cara yang menyenangkan dan sama sekali tak disangka. Selama sebulan itu, layaknya KKN yang sebenarnya. KKN? Yah, kuliah kerja nyata. Kita, KKN-nya sama sekali ga gabut. Ga sama kaya cerita sebagian dari temen-temen lain yang sama KKN juga, yang “katanya” mereka merasa gabut saat KKN. Kita beda. Kita sama sekali jauh dari kata ke-gabut-an. Banyak kenangan yang gak bisa diceritain lewat tulisan ini .. Seneng, sedih, marah, kecewa, dan semuanya ada. Tapi dari semua itu, kita belajar banyak dan menjadikan kita lebih kompak. Jujur. Aku belum pernah ketemu temen-temen kaya mereka. Kita semua, punya sifat yang berbeda, tapi kita semua membuat itu jadi lebur “melebur tapi beda”. Kita tahu, berbeda itu pasti ada tapi kita menjadikan perbedaan itu satu dengan saling menerima pribadi masing-masing. KKN kemarin itu, bener-bener kaya mimpi. Mimpi indah, yang terhenti karena kita harus bangun dan kembali ke rutinitas kita masing-masing. Gak bisa diulang. Karena waktupun sama sekali gak bisa terulang kembali. Aku cuma berharap, kita bareng-bareng lagi dan seneng-seneng lagi sampai menua nanti. Karena, aku bersyukur pernah kenal dan mengenali kalian. Terimakasih untuk cinta kalian~ Aditya Restu Rahayu, Adytia Putra Pradana, Andry, Aprintha, Bella Rizki, Desyani Shalihah, Dina Arifiah, Elza Katartika, Evan Aleron, Fakhriyusrid, Gun Gun Cahyadi, Hanifah Salimah, Iid Misbahuddin, Intan Oktaviani, Ivan Jordi, Joshua Jonah, Lalan Wulandari, Silvia Yuliani, Sintia Saputra, dan Zulfa Ayu Avista,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...