Langsung ke konten utama

Teruntuk: Teman yang sedang mengambil keputusan untuk masa depan

Ini cerita tentang teman. Lebih dari teman. Bukan cowo. Sekarang, dia harus menentukan atau memutuskan sesuatu untuk masa depannya. Aku tau, ini berat. Karena, terkadang aku juga merasa benci harus menjadi dewasa dan menghadapi masa depan yang belum jelas asal-usulnya itu, yang belum jelas apakah kedepannya aku bakal baik-baik aja, yang belum jelas apakah masa depan kelak akan menjanjikan dibanding hari ini. Tapi, masa depan pada akhirnya harus dilewati.

Teruntuk temanku ini, aku cuman berpesan tolong putuskan sesuatu tanpa emosi. Tolong putuskan sesuatu dengan pertimbangan baik buruknya, tolong supaya kamu selalu baik-baik aja dimanapun kamu nanti.

Tapi, kalo kamu sudah memutuskan itu yang terbaik buat kamu. Aku setuju. Prinsipku, asal kamu selalu bahagia.

Walaupun pada akhirnya kita punya kehidupan masing-masing, dan jarak memisahkan kita itu gak masalah  distance is nothing when ur something. Aku selalu siap untuk mendengarkan cerita kamu, akan ada banyak cara yang dilakukan terlebih untuk komunikasi di era digital ini. Walaupun, ada satu kekurangan yaitu aku gak bisa meluk kamu saat kamu “jatuh”.

Hey, kamu. Jangan nangis. Aku tau, dibelakang kamu selalu nangis. Maksud aku, kamu jangan nangis dibelakang. Nangis depan aku aja. Biar aku peluk kamu, biar aku tau kalo kamu cape. Sekali-kali kamu jangan sembunyi. Kamu harus bilang sama aku, kalo kamu cape atau apapun itu.

Maaf yah, aku gak bisa menghibur kamu. Aku juga kadang gak peka. Maaf yah.

Tapi dari lubuk hati yang paling dalam aku bahagia saat kamu bercerita tentang cowo yang deket sama kamu, aku suka saat kamu cerita tentang masalah-masalah kamu, tapi terkadang aku bingung harus bantu apa. Tapi kamu tau kan? Kata dosen aku “bahwa seseorang itu perlu didengarkan dan mereka akan baik-baik saja” jadi sometime aku cuman bisa dengerin kamu dan selalu berharap kamu baik-baik aja.
Teruntuk temanku ini, aku cuman minta kamu harus sehat. Dunia ini terlalu kejam buat kita. Setidaknya, dengan kamu sehat, kamu punya tenaga untuk menghadapi dunia yang menyebalkan ini.


Senin, 18 September 2017
Riung Bandung
Pukul 19.21



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...