Ini cerita tentang teman. Lebih dari teman. Bukan cowo.
Sekarang, dia harus menentukan atau memutuskan sesuatu untuk masa depannya. Aku
tau, ini berat. Karena, terkadang aku juga merasa benci harus menjadi dewasa
dan menghadapi masa depan yang belum jelas asal-usulnya itu, yang belum jelas
apakah kedepannya aku bakal baik-baik aja, yang belum jelas apakah masa depan
kelak akan menjanjikan dibanding hari ini. Tapi, masa depan pada akhirnya harus
dilewati.
Teruntuk temanku ini, aku cuman berpesan tolong putuskan
sesuatu tanpa emosi. Tolong putuskan sesuatu dengan pertimbangan baik buruknya,
tolong supaya kamu selalu baik-baik aja dimanapun kamu nanti.
Tapi, kalo kamu sudah memutuskan itu yang terbaik buat kamu.
Aku setuju. Prinsipku, asal kamu selalu bahagia.
Walaupun pada akhirnya kita punya kehidupan masing-masing,
dan jarak memisahkan kita itu gak masalah
distance is nothing when ur
something. Aku selalu siap untuk mendengarkan cerita kamu, akan ada banyak
cara yang dilakukan terlebih untuk komunikasi di era digital ini. Walaupun, ada
satu kekurangan yaitu aku gak bisa meluk kamu saat kamu “jatuh”.
Hey, kamu. Jangan nangis. Aku tau, dibelakang kamu selalu
nangis. Maksud aku, kamu jangan nangis dibelakang. Nangis depan aku aja. Biar
aku peluk kamu, biar aku tau kalo kamu cape. Sekali-kali kamu jangan sembunyi.
Kamu harus bilang sama aku, kalo kamu cape atau apapun itu.
Maaf yah, aku gak bisa menghibur kamu. Aku juga kadang gak
peka. Maaf yah.
Tapi dari lubuk hati yang paling dalam aku bahagia saat kamu
bercerita tentang cowo yang deket sama kamu, aku suka saat kamu cerita tentang
masalah-masalah kamu, tapi terkadang aku bingung harus bantu apa. Tapi kamu tau
kan? Kata dosen aku “bahwa seseorang itu perlu didengarkan dan mereka akan
baik-baik saja” jadi sometime aku cuman bisa dengerin kamu dan selalu berharap kamu
baik-baik aja.
Teruntuk temanku ini, aku cuman minta kamu harus sehat.
Dunia ini terlalu kejam buat kita. Setidaknya, dengan kamu sehat, kamu punya
tenaga untuk menghadapi dunia yang menyebalkan ini.
Senin, 18 September 2017
Riung Bandung
Pukul 19.21
Komentar
Posting Komentar