Langsung ke konten utama

Mencari Jati Diri dan Kutukan Tukang Sayur

Jujur. Aku sekarang lagi jadi manusia yg katanya sedang mencari jati diri. Aku juga ga paham sebenernya diri aku itu apa, entah aku sebenernya siluman ular, goblin, atau makhluk halus.

Aku bingung.

Temen-temen aku, sudah melabeling aku sebagai perempuan yg sering ketawa dan gak ada anggun-anggunya sama sekali. Bahkan, kata mereka aku terlihat gak pernah sedih.
Mereka so tau.

Aku suka sedih. Sedih nonton drama korea :((( sedih meratapi kehidupan ini dan juga sedih gak punya duit :(

Terkadang, aku juga pengen terlihat sebagai cewe anggun nan elegan kaya temen-temen aku yg lain. Tapi gak bisa. Setiap kali aku coba, aku bakal kembali pada diri aku yang suka abrug-abrugan dan tertawa dimanapun aku berada.

Hey.

Kamu salah. Aku bukan orang gila yang suka ketawa-ketawa kok. Aku normal.
Tapi selera humor aku emang rendah. Hal yang gak lucu bisa bikin ketawa.

Ceritanya, kemarin-kemarin aku pengen berubah jadi pendiem.
Aku diem ajaa, dieeeem terus. Gak ngomong.
Dieem. Hening. Diem-diem menghilang.
Selidik punya selidik, kamu harus tau alasan aku tiba-tiba diem.
Ternyata, saking lamanya diem. Bibir aku gak bisa dibuka wkwkwk.
Dan aku baru tau, aku telah dikutuk sama ceu cacih tukang sayur yg nawarin sayur depan rumah tapi gak aku jawab, karena aku lagi mencoba jd pendiem.
Setelah sadar. Aku segera meminta maaf dengan bahasa isyarat kepada ceu cacih tadi.
Tapi sayang ceu cacih mempunyai syarat. Katanya, aku harus memborong sayurnya beserta gerobaknya.
Karena aku sedang kaya pada saat itu, aku belilah semua. Dan kutukannya dihilangkan.
Tapi setelah itu, aku bingung dengan sayuran dan gerobak yg sudah aku beli tadi.
Akhir cerita, aku jadi tukang sayur dan ceu cacih menjadi orang kaya terkaya se-garut raya.

Aku juga gak jadi, mau jadi pendiem tea. Aku mau jadi aku yg apa adanya. Yah .. aku akan menjadi aku dengan jati diri aku yang sudah ada sebelumnya.
Gak nyambung. Tapi itulah faedahnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...