Kata Mamah dan Bapak “Yaudah gapapa, bukan jodoh”.
This is the real of life.
Sekarang aku bener-bener ngerasain kehidupan nyata yang
sesungguhnya, yang dulu diwanti-wanti oleh guru SMA dan dosen semasa kuliah,
dan juga termasuk orang tua.
Selesai lulus kuliah, kehidupan nyata bener-bener jadi
pembuka yang aku sendiri merasa shock dengan kehidupan baru setelah kuliah ini.
Gimana engga? Aku harus bersaing dengan 10 juta orang yang juga sama-sama
berjuang ngejar karier. Many people said “pengangguran” tapi aku gak mau bilang
itu. Kata senior aku, “kamu itu bukan pengangguran, kamu cuman sedang menunggu”
gitulah sedikit motivasi dari kakak senior waktu SMA.
Aku udah sangat banyak mengirim lamaran ke beberapa
perusahaan besar. Hasilnya? Sampai saat ini ada 5 perusahaan yang memanggil
buat psikotest, tapi belum ada kabar entah emang “belum saatnya” atau memang “belum”,
kamu pasti paham maksud aku.
Sebenernya aku udah gak sabar, buat kerja. Tapi mungkin
belum saatnya. Rasanya setiap hari selalu khawatir karena belum bisa membantu
keluarga. Tapi aku selalu bersyukur, punya mamah dan bapak yang selalu sabar
dan support.
Cerita sedikit soal 5 perusahaan tadi, setiap pulang
psikotest sebenernya aku merasa sangat amat sedih harus menceritakan yang
sebenarnya kepada orang tua gimana susahnya ngerjain psikotest sesuai dengan
kriteria perusahaan, gimana susahnya ngegambar orang, ngegambar pohon, warteg
test, test aritmatika, dan segala tektekbengek psikotestnya.
Tapi aku harus bilang ke orang tua bahwa itu yang sebenernya
terjadi. Dan yang semakin membuat aku speechless adalah ketika orang tua cuman
bilang “Yaudah gapapa, bukan jodoh. Yang penting usaha, nanti juga kalo
waktunya kerja mah yah kerja”.
Aku semakin gak sabar pengen memberikan sesuatu dan membantu
orang tua. Tapi balik lagi, mungkin belum saatnya, mungkin usaha aku belum
cukup, atau mungkin ditunda dulu karena aku harus mempersiapkan buat mental nanti. Cause,
this is the real of life.
Komentar
Posting Komentar