Langsung ke konten utama

Fantasiku


Aku selalu berpikir bahwa fantasi sebenarnya lebih baik dari pada kenyataan.
Dan aku berpikir tentang betapa senangnya untuk akhirnya dapat melihat kamu lagi.
Tetapi ketika aku benar-benar melihatmu lagi, kamu tidak seperti apa yang aku harapkan. Ini benar-benar berbanding terbalik dengan fantasiku.
Bahkan, semakin aku tahu tentang kamu, semakin sulit dan menyakitkan.

Sampai sekarang, aku masih sungguh tak percaya dengan kenyataan ini.
Padahal beberapa waktu lalu, bahkan kamu adalah orang pertama yang selalu bertanya “Apakah semuanya baik-baik saja?”
Kamu harus tahu, aku sangat rindu pertanyaan itu.
Kamu harus tahu, bahwa aku saat ini sedang berada di titik bawah.
Bahwa aku sekarang sedang merasa lelah, dan aku ingin menceritakan perasaan aku ini kepadamu seperti dulu.
Tapi aku rasa ini akan sulit, dan menjadi canggung pada akhirnya.

Dan fantasi ini selalu hadir menenangkan.
Bagaimana tidak?
Ketika aku berhenti berfantasi rasanya kenyataan seperti mimpi buruk.
Dan aku akan terus berfantasi.
Sampai aku dapat menerima kenyataan bahwa fantasiku hanya bualan belaka.
Karena sebenarnya fantasiku ini hanya alasanku untuk menguatkan bahwa semuanya baik-baik saja.

Sulit untuk menyadari bahwa kita tidak sedekat dulu dan seperti fantasiku saat ini.

Dan aku akan terus berfantasi sampai aku mulai menerima kenyataan bahwa kita sudah memutuskan jalan kita masing-masing.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...