Langsung ke konten utama

Phobia Hari Esok

Ingin kuceritakan tentang diriku yang sebenarnya.
Bukan tanpa alasan. Tapi kamu harus tahu.

Kebanyakan orang selalu menantikan hari esok.
Tapi aku tidak.
Tidak sama sekali.
Aku takut.

Dalam keseharianku, aku tampak seperti egois.
Hidup terlihat serius dan tak menikmati.
Bukan. Bukan begitu. Aku takut. Tolong pahami.

Begitu dengan setiap malamku.
Aku tampak seperti tanpa beban.
Tidur telentang menatap atap kamar dengan tatapan kosong.
Bukan. Bukan Begitu. Aku takut. Tolong pahami.

Memikirkan hari esok, esok dan esok lagi menjadi begitu menakutkan bagiku.
Ini tentang apa yang akan terjadi.
Tentang kepastian hari esok yang ku sendiri tak tahu seperti apa jalannya.
Ketakutan akan ketidakpastian mengenai hari esok, kejam dan berat bagiku.
Dan aku hanya ingin menghindari semuanya.

Apakah esok, esok dan esok lagi aku masih disini?
Apakah esok, esok dan esok lagi aku masih bersama orang-orang terkasih?
Berat untuk menutup mata walau lelah.
Pikiran tentang hari esok mengalahkan rasa kantuk.
Seperti insomnia yang dibuat. Bukan. Tak terpikirkan hal itu.

Dan Tuhan yang sangat baik menidurkanku.
Seolah lupa ingatan sejenak.
Ketakutan itu hilang.
Tuhan, terimakasih, atas pertolonganmu.
Aku bisa hidup di hari esok.
Pagi yang cerah dan dengan segala suara yang ada.
Aku suka.
Aku menjadi egois yang sangat senang bila setiap pagi ku dengar keributan di dapur dan suara ibuku yang teriak untuk membangunkanku.
Aku menjadi egois yang sangat senang bila setiap pagi ku dengar ayahku yang sedang mendengarkan lagu-lagu rock jadul kesukaanya dengan volume keras.
Aku menjadi egois yang sangat senang bila setiap pagi ku dengar adik kecilku sibuk mencari dasi dan topi sekolahnya.

Dan, kembali malam. Kembali menakutkan.
Tuhan, bagaimana ini?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...