Ingin kuceritakan tentang diriku yang sebenarnya.
Bukan tanpa alasan. Tapi kamu harus tahu.
Kebanyakan orang selalu menantikan hari esok.
Tapi aku tidak.
Tidak sama sekali.
Aku takut.
Dalam keseharianku, aku tampak seperti egois.
Hidup terlihat serius dan tak menikmati.
Bukan. Bukan begitu. Aku takut. Tolong pahami.
Begitu dengan setiap malamku.
Aku tampak seperti tanpa beban.
Tidur telentang menatap atap kamar dengan tatapan kosong.
Bukan. Bukan Begitu. Aku takut. Tolong pahami.
Memikirkan hari esok, esok dan esok lagi menjadi begitu menakutkan bagiku.
Ini tentang apa yang akan terjadi.
Tentang kepastian hari esok yang ku sendiri tak tahu seperti apa jalannya.
Ketakutan akan ketidakpastian mengenai hari esok, kejam dan berat bagiku.
Dan aku hanya ingin menghindari semuanya.
Apakah esok, esok dan esok lagi aku masih disini?
Apakah esok, esok dan esok lagi aku masih bersama orang-orang terkasih?
Berat untuk menutup mata walau lelah.
Pikiran tentang hari esok mengalahkan rasa kantuk.
Seperti insomnia yang dibuat. Bukan. Tak terpikirkan hal itu.
Dan Tuhan yang sangat baik menidurkanku.
Seolah lupa ingatan sejenak.
Ketakutan itu hilang.
Tuhan, terimakasih, atas pertolonganmu.
Aku bisa hidup di hari esok.
Pagi yang cerah dan dengan segala suara yang ada.
Aku suka.
Aku menjadi egois yang sangat senang bila setiap pagi ku dengar keributan di dapur dan suara ibuku yang teriak untuk membangunkanku.
Aku menjadi egois yang sangat senang bila setiap pagi ku dengar ayahku yang sedang mendengarkan lagu-lagu rock jadul kesukaanya dengan volume keras.
Aku menjadi egois yang sangat senang bila setiap pagi ku dengar adik kecilku sibuk mencari dasi dan topi sekolahnya.
Dan, kembali malam. Kembali menakutkan.
Tuhan, bagaimana ini?
Bukan tanpa alasan. Tapi kamu harus tahu.
Kebanyakan orang selalu menantikan hari esok.
Tapi aku tidak.
Tidak sama sekali.
Aku takut.
Dalam keseharianku, aku tampak seperti egois.
Hidup terlihat serius dan tak menikmati.
Bukan. Bukan begitu. Aku takut. Tolong pahami.
Begitu dengan setiap malamku.
Aku tampak seperti tanpa beban.
Tidur telentang menatap atap kamar dengan tatapan kosong.
Bukan. Bukan Begitu. Aku takut. Tolong pahami.
Memikirkan hari esok, esok dan esok lagi menjadi begitu menakutkan bagiku.
Ini tentang apa yang akan terjadi.
Tentang kepastian hari esok yang ku sendiri tak tahu seperti apa jalannya.
Ketakutan akan ketidakpastian mengenai hari esok, kejam dan berat bagiku.
Dan aku hanya ingin menghindari semuanya.
Apakah esok, esok dan esok lagi aku masih disini?
Apakah esok, esok dan esok lagi aku masih bersama orang-orang terkasih?
Berat untuk menutup mata walau lelah.
Pikiran tentang hari esok mengalahkan rasa kantuk.
Seperti insomnia yang dibuat. Bukan. Tak terpikirkan hal itu.
Dan Tuhan yang sangat baik menidurkanku.
Seolah lupa ingatan sejenak.
Ketakutan itu hilang.
Tuhan, terimakasih, atas pertolonganmu.
Aku bisa hidup di hari esok.
Pagi yang cerah dan dengan segala suara yang ada.
Aku suka.
Aku menjadi egois yang sangat senang bila setiap pagi ku dengar keributan di dapur dan suara ibuku yang teriak untuk membangunkanku.
Aku menjadi egois yang sangat senang bila setiap pagi ku dengar ayahku yang sedang mendengarkan lagu-lagu rock jadul kesukaanya dengan volume keras.
Aku menjadi egois yang sangat senang bila setiap pagi ku dengar adik kecilku sibuk mencari dasi dan topi sekolahnya.
Dan, kembali malam. Kembali menakutkan.
Tuhan, bagaimana ini?
Komentar
Posting Komentar