Politik tuh apa sih?
Pertanyaan yang sampai saat ini masih terngiang di kepala pada saat pertama kali diwawancara untuk jadi bagian dari timses Kang Emil waktu itu.
Aku adalah tipe orang yang bodo amat soal politik. Bener-bener gelap.
Bahkan aku menjudge politik adalah sesuatu yang menyebalkan. Dan kamu tahu, aku menyumpahi diri aku kalau suatu hari nanti jangan sampai aku masuk dunia politik.
Tapi suatu hari, entah dapet hidayah dari mana. Aku ngerasa aku setidaknya harus tau atau harus belajar tentang politik. Karena sejujurnya, kalau aku gatau politik tapi malah menjudge itu sesuatu yang aga aneh juga. Dan aku merasa malu sama diri aku sendiri yang menjudge politik tapi selama kuliah ikut-ikutan organisasi BEM, HIMA, dsb. Bukannya itu sama-sama aja berpolitik?
So, aku pengen tau dulu, apakah politik sesuai dengan apa yang selalu aku pikirkan? Ribet dan selalu negatif?
Dan ini kesempatan aku. Selain karena diajak temen buat gabung ditambah lagi karena waktu itu lagi gabut juga, jadi anggap aja iseng-iseng berhadiah. Kalau ga betah jangan lanjut. Fix. Ini komitmen aku saat itu.
Dan itu dia balik lagi pada pertanyaan diatas, first impression aku saat pertama kali masuk ruangan untuk wawancara.
Politik itu apa?
Yang aku jawab saat itu, politik adalah sistem. Sistem? Sistem apaan?
Entahlah. Aku gatau. Intinya gimana seseorang berkuasa. Sumpah. Aku merasa ini adalah jawaban terngaco sedunia.
Hal yang paling menarik dari wawancara itu setelah aku menjawab pertanyaan pewawancara adalah bagaimana setelahnya si pewawancara menjelaskan bahwa politik itu tidak selalu melulu tentang organisasi atau kekuasaan, tapi segala aktivitas dan kehidupan kita akan selalu berkaitan dengan politik.
Sip. Ini adalah poin penting dari wawancara yang masih aku inget dan menjadi pelajaran berharga dalam hidup aku.
Disitu, pikiran aku aga terbuka. Sedikit.
Perjalanan aku disini udah 2 bulan. Dan aku masih sambil menyelam minum air disana. Belajar. Dan pengen tahu. Dan selama 2 bulan itu, aku merasa belum mendpatkan apa yang aku harapkan. Dan jujur aku hampir udahan disana. Alasannya selain belum mendapatkan apa-apa, aku juga dapat 2 tawaran pekerjaan di luar yang lebih menjanjikan. Itu adalah godaan terberat dalam hidup aku.
Setelah bergelut dengan tawaran-tawaran pekerjaan, aku tetap memilih untuk melanjutkan menjadi timses disini. Aku sempet nangis. Aku berharap, apa yang aku pilih sekarang adalah pilihan terbaik.
Singkat cerita, aku nonton debat Kang Emil yang kesatu, di salah satu televisi. Disitu kondisinya aku masih belum mendapatkan gambaran tentang politik yang aku harapkan.
Di acara debat itu, aku lupa beliau bilangnya gimana, yang aku inget bahwa Kang Emil ingin membantu orang-orang dan membuat perubahan tapi, ada ranah-ranah yang tidak bisa beliau jangkau ketika menjadi walikota. Jadi gubernur adalah suatu kendaraan atau alat untuk membantu dan membuat perubahan itu.
Itu sebenernya alasan Kang Emil untuk menjadi gubernur. Sah-sah aja sih yang penting niatnya positif. Ada juga yang menarik perhatian lebih. Dimana di debat kali ini sebagian besar paslon menyerang Kang Emil dan Kang Uu sebagai cawagubnya. Dan yang membuat aku jatuh hati adalah Kang Emil sama sekali ga balas menyerang. Walaupun ini konteksnya debat Kang Emil dan Kang Uu terlihat stay cool hehe.
Dan secara subjektif, aku ngeliat serangan mereka lebih ke arah yang sifatnya rada sedikit pribadi. Entah sih, apa perasaan aku aja yang terlalu baper tapi aku liatnya kaya gitu. Padahal kalau Kang Emil mau nyerang dia bisa aja nyerang dan aku yakin kalau Kang Emil nyerangnya bakal monohok. Tapi itulah yang bikin aku salut. Kang Emil selalu ingat kata-kata ibunya untuk tidak menyerang dan tetap sabar atas serangan-serangan yang dilayangkan.
Gak cuman karena debat itu aja, setelah 4 bulan disana, aku udah menemukan apa yang aku harapkan. Dan jangan tanya perasaan aku kaya gimana. Aku merasa senang. Walaupun kadang aku suka terbawa suasana buat mengeluh tapi aku merasa ini adalah sesuatu yang menyenangkan.
Intinya, jawaban dari bagaimana tentang politik itu adalah tergantung pada bagaimana pandangan kita tentang politik dan pandangan itu memengaruhi cara kita berikhtiar.
Lagi-lagi, ada yang paling menarik yang buat aku terkesan, mengutip dari apa yang disampaikan Kang Emil pada saat sambutan di acara PSI beberapa waktu lalu.
Kang Emil bilang, bahwa seharusnya kekuasaan itu jangan pernah dilihat sebagai suatu tujuan, tetapi kekuasaan itu sebagai kendaraan.
Dalam artian, bahwa politik jangan dijadikan sebuah tujuan tapi kendaraan. Kendaraan apa? Kendaraan yang dimaksud disini adalah bagaimana politik seharusnya membawa perubahan dan menolong orang.
Selanjutnya tentang ikhtiar yang tadi aku bilang dipengaruhi dari bagaimana cara kita memandang politik.
Pertama, ikhtiar seorang Kang Emil dan timses lainnya selama kampanye dilihat dari sisi subjektif aku. Kebetulan aku adalah tim jadwal. Tim yang menjadwalkan Kang Emil kemanapun Kang Emil pergi. Curhat sedikit, aku kadang gak pulang ke rumah cuman untuk rapat bareng atasan aku yang lain. Yah mau gamau harus gabung.
Jadwal kampanye bukan semata-mata dibuat gitu aja. Perlu koordinasi dengan beberapa pihak dan banyak sekali hal yang sangat dipertimbangkan. Dilihat dari kondisi geografis, dilihat dari potensi masyarakatnya, dilihat dari kesempatan-kesempatan yang menjadi belanja masalah supaya kampanye yang dilakukan bisa benar-benar memberikan dampak setelah nanti Kang Emil dan Kang Uu menjadi gubernur.
Semua data-data yang kita punya, semua sumber-sumber informasi terkait suatu daerah kita evaluasi.
Cuman untuk didatengin dalam satu hari atau dua hari di kota atau kabupaten. Bisa dilihat, bagaimana seriusnya mereka membuat jadwal kampanye dengan matang agar bisa memberikan dampak positif kepada masyarakat dari kampanye yang dilakukan.
Oh, ternyata kaya gini yah nyusun kampanye. Aku kira dateng-dateng aja gitu ke tempat kampanye, terus bagi-bagi APK. Oke. Sekarang aku paham.
Sebenernya banyak banget pelajaran yang aku ambil setelah gabung jadi timses. Prinsip hidup aku adalah selalu mengambil pelajaran atau sisi positif dari apa aja yang aku lakukan. Mungkin tulisan ini belum mewakili semuanya. Tapi aku tulis disini, supaya selalu aku ingat. Karena tulisan akan selalu ada sekalipun aku udah gak ada di dunia ini.
Sekarang, Kang Emil sudah mendapatkan hasil dari ikhtiarnya selama ini.
Ngutip dari apa yang disampaikan Kang Emil di Hotel Papandayan (27/06/2018)
Kata-kata yang masih menempel dalam benak aku "Tugas kita menjemput takdir dengan ikhtiar". Mungkin takdir aku untuk jadi bagian disini dan takdir aku juga untuk belajar banyak di tim ini. Sekarang semuanya udah selesai. Aku bukan lagi bagian dari tim sukses ini.
Sekarang giliran aku yang menjemput takdir. Tentang takdir yang selama ini aku kira datang tanpa harus dijemput. Dan aku baru sadar. Bahwa takdir sangat tergantung pada bagaimana ikhtiar kita. Lagi-lagi pilihan, pilihan untuk menjadi lebih baik atau sebaliknya.
Pertanyaan yang sampai saat ini masih terngiang di kepala pada saat pertama kali diwawancara untuk jadi bagian dari timses Kang Emil waktu itu.
Aku adalah tipe orang yang bodo amat soal politik. Bener-bener gelap.
Bahkan aku menjudge politik adalah sesuatu yang menyebalkan. Dan kamu tahu, aku menyumpahi diri aku kalau suatu hari nanti jangan sampai aku masuk dunia politik.
Tapi suatu hari, entah dapet hidayah dari mana. Aku ngerasa aku setidaknya harus tau atau harus belajar tentang politik. Karena sejujurnya, kalau aku gatau politik tapi malah menjudge itu sesuatu yang aga aneh juga. Dan aku merasa malu sama diri aku sendiri yang menjudge politik tapi selama kuliah ikut-ikutan organisasi BEM, HIMA, dsb. Bukannya itu sama-sama aja berpolitik?
So, aku pengen tau dulu, apakah politik sesuai dengan apa yang selalu aku pikirkan? Ribet dan selalu negatif?
Dan ini kesempatan aku. Selain karena diajak temen buat gabung ditambah lagi karena waktu itu lagi gabut juga, jadi anggap aja iseng-iseng berhadiah. Kalau ga betah jangan lanjut. Fix. Ini komitmen aku saat itu.
Dan itu dia balik lagi pada pertanyaan diatas, first impression aku saat pertama kali masuk ruangan untuk wawancara.
Politik itu apa?
Yang aku jawab saat itu, politik adalah sistem. Sistem? Sistem apaan?
Entahlah. Aku gatau. Intinya gimana seseorang berkuasa. Sumpah. Aku merasa ini adalah jawaban terngaco sedunia.
Hal yang paling menarik dari wawancara itu setelah aku menjawab pertanyaan pewawancara adalah bagaimana setelahnya si pewawancara menjelaskan bahwa politik itu tidak selalu melulu tentang organisasi atau kekuasaan, tapi segala aktivitas dan kehidupan kita akan selalu berkaitan dengan politik.
Sip. Ini adalah poin penting dari wawancara yang masih aku inget dan menjadi pelajaran berharga dalam hidup aku.
Disitu, pikiran aku aga terbuka. Sedikit.
Perjalanan aku disini udah 2 bulan. Dan aku masih sambil menyelam minum air disana. Belajar. Dan pengen tahu. Dan selama 2 bulan itu, aku merasa belum mendpatkan apa yang aku harapkan. Dan jujur aku hampir udahan disana. Alasannya selain belum mendapatkan apa-apa, aku juga dapat 2 tawaran pekerjaan di luar yang lebih menjanjikan. Itu adalah godaan terberat dalam hidup aku.
Setelah bergelut dengan tawaran-tawaran pekerjaan, aku tetap memilih untuk melanjutkan menjadi timses disini. Aku sempet nangis. Aku berharap, apa yang aku pilih sekarang adalah pilihan terbaik.
Singkat cerita, aku nonton debat Kang Emil yang kesatu, di salah satu televisi. Disitu kondisinya aku masih belum mendapatkan gambaran tentang politik yang aku harapkan.
Di acara debat itu, aku lupa beliau bilangnya gimana, yang aku inget bahwa Kang Emil ingin membantu orang-orang dan membuat perubahan tapi, ada ranah-ranah yang tidak bisa beliau jangkau ketika menjadi walikota. Jadi gubernur adalah suatu kendaraan atau alat untuk membantu dan membuat perubahan itu.
Itu sebenernya alasan Kang Emil untuk menjadi gubernur. Sah-sah aja sih yang penting niatnya positif. Ada juga yang menarik perhatian lebih. Dimana di debat kali ini sebagian besar paslon menyerang Kang Emil dan Kang Uu sebagai cawagubnya. Dan yang membuat aku jatuh hati adalah Kang Emil sama sekali ga balas menyerang. Walaupun ini konteksnya debat Kang Emil dan Kang Uu terlihat stay cool hehe.
Dan secara subjektif, aku ngeliat serangan mereka lebih ke arah yang sifatnya rada sedikit pribadi. Entah sih, apa perasaan aku aja yang terlalu baper tapi aku liatnya kaya gitu. Padahal kalau Kang Emil mau nyerang dia bisa aja nyerang dan aku yakin kalau Kang Emil nyerangnya bakal monohok. Tapi itulah yang bikin aku salut. Kang Emil selalu ingat kata-kata ibunya untuk tidak menyerang dan tetap sabar atas serangan-serangan yang dilayangkan.
Gak cuman karena debat itu aja, setelah 4 bulan disana, aku udah menemukan apa yang aku harapkan. Dan jangan tanya perasaan aku kaya gimana. Aku merasa senang. Walaupun kadang aku suka terbawa suasana buat mengeluh tapi aku merasa ini adalah sesuatu yang menyenangkan.
Intinya, jawaban dari bagaimana tentang politik itu adalah tergantung pada bagaimana pandangan kita tentang politik dan pandangan itu memengaruhi cara kita berikhtiar.
Lagi-lagi, ada yang paling menarik yang buat aku terkesan, mengutip dari apa yang disampaikan Kang Emil pada saat sambutan di acara PSI beberapa waktu lalu.
Kang Emil bilang, bahwa seharusnya kekuasaan itu jangan pernah dilihat sebagai suatu tujuan, tetapi kekuasaan itu sebagai kendaraan.
Dalam artian, bahwa politik jangan dijadikan sebuah tujuan tapi kendaraan. Kendaraan apa? Kendaraan yang dimaksud disini adalah bagaimana politik seharusnya membawa perubahan dan menolong orang.
Selanjutnya tentang ikhtiar yang tadi aku bilang dipengaruhi dari bagaimana cara kita memandang politik.
Pertama, ikhtiar seorang Kang Emil dan timses lainnya selama kampanye dilihat dari sisi subjektif aku. Kebetulan aku adalah tim jadwal. Tim yang menjadwalkan Kang Emil kemanapun Kang Emil pergi. Curhat sedikit, aku kadang gak pulang ke rumah cuman untuk rapat bareng atasan aku yang lain. Yah mau gamau harus gabung.
Jadwal kampanye bukan semata-mata dibuat gitu aja. Perlu koordinasi dengan beberapa pihak dan banyak sekali hal yang sangat dipertimbangkan. Dilihat dari kondisi geografis, dilihat dari potensi masyarakatnya, dilihat dari kesempatan-kesempatan yang menjadi belanja masalah supaya kampanye yang dilakukan bisa benar-benar memberikan dampak setelah nanti Kang Emil dan Kang Uu menjadi gubernur.
Semua data-data yang kita punya, semua sumber-sumber informasi terkait suatu daerah kita evaluasi.
Cuman untuk didatengin dalam satu hari atau dua hari di kota atau kabupaten. Bisa dilihat, bagaimana seriusnya mereka membuat jadwal kampanye dengan matang agar bisa memberikan dampak positif kepada masyarakat dari kampanye yang dilakukan.
Oh, ternyata kaya gini yah nyusun kampanye. Aku kira dateng-dateng aja gitu ke tempat kampanye, terus bagi-bagi APK. Oke. Sekarang aku paham.
Sebenernya banyak banget pelajaran yang aku ambil setelah gabung jadi timses. Prinsip hidup aku adalah selalu mengambil pelajaran atau sisi positif dari apa aja yang aku lakukan. Mungkin tulisan ini belum mewakili semuanya. Tapi aku tulis disini, supaya selalu aku ingat. Karena tulisan akan selalu ada sekalipun aku udah gak ada di dunia ini.
Sekarang, Kang Emil sudah mendapatkan hasil dari ikhtiarnya selama ini.
Ngutip dari apa yang disampaikan Kang Emil di Hotel Papandayan (27/06/2018)
"Ini adalah takdir Allah, yang sudah Allah tetapkan.
Tugas kita menjemput dengan ikhtiar, tugas kita meluruskan dengan doa-doa
malam, tugas kita mempercepat takdir ini dengan sedekah".
Komentar
Posting Komentar