Langsung ke konten utama

Titik jenuh (DRAMA SORE PROJECT #2)


     Waktu menunjukkan pukul 16.16 WIB. Selesai kelas mata kuliah perencanaan komunikasi, aku langsung bergegas menemuinya di Amphitheater. Amphitheater adalah sebuah tempat di Fakultasku, Ilmu Komunikasi. Tempat ini merupakan tempat yang sangat dia suka. Selain sepi, dan tempatnya juga sangat luas. Sedikit gambaran, di Amphiteater ini juga, ada semacam panggung yang berbentuk persegi panjang yang mungkin sengaja dibuat untuk acara tertentu. Di depan panggung tersebut terdapat jarak sekitar 5-7 meter lalu ada seperti tangga-tangga di sekelilingnya. Ah iya. Kalo kamu pergi ke stadion sepak bola, mirip seperti itu. Tangga-tangganya semacam tempat duduk, melingkar, setengah lingkaran di depan panggung.
Dari jauh, aku sudah melihatnya duduk dipanggung itu dan sedang sibuk dengan laptopnya. Aku menuruni anak tangga untuk sampai ke Amphiteater. Sambil membawa jus Strawberry di kedua tangan kanan dan kiriku yang aku beli selesai kelas tadi.
Aku baru saja sampai. Dan dia menutup laptopnya setelah menyadari kedatanganku.

"Udah lama disini?" Tanyaku memulai obrolan.
"Udah." Dia tersenyum.
Aku memberikan jus Strawberry yang tadi aku bawa untuknya. Tanpa berkata, ia langsung meminum jus yang aku berikan. Angin sore ini, lumayan kencang. Aku melihat rambutnya yang sedikit acak-acakan terkena angin. Kemudian, aku duduk disamping kirinya. Menaruh tasku dan meminum juga jus Strawberry milikku.
"Gimana tadi kelasnya?." Tanyanya tiba-tiba.
“Seperti biasa. Kamu?” Jawabku.
Dia mengangguk pelan. "Sama."
Setelah itu kami terdiam cukup lama, sampai akhirnya dia mulai memecah keheningan. Tahu-tahu ia membaringkan tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya dibawah untuk dijadikan penyanggah kepala dan menatap langit sore yang perlahan mulai gelap.
"Aku mau nanya sesuatu, boleh?"
Aku dengan susah payah menelan ludah. Masih diposisi duduk aku menaruh jusku yang sudah habis setengahnya dan tanpa menoleh kearahnya yang tengah berbaring. Entah mengapa, aku memiliki firasat buruk akan hal ini. Ini bukan dia yang seperti biasanya.
"Nanya apa?"
"Kamu ..". Jawabnya terputus. Dia mencoba bangun. Lalu menatapku dengan tatapan yang sangat amat serius. Membuatku sedikit takut. "Kamu pernah merasa bosan gak sih sama aku?"
DEG!. Itu adalah pertanyaan yang sama sekali di luar dugaan. Aku mengembuskan napas panjang. Mencoba mengingat-ngingat masa lalu.
"Pernah." Aku mengangguk lemah dan tanpa berpikir panjang.
"Kapan?"
"Waktu semester 2. Aku ngerasa itu adalah titik jenuh aku berhubungan sama kamu.”
Aku terdiam sejenak, menghembuskan napas dan mencoba melanjutkan ceritaku. “Aku gak bisa bohong, kalau di masa-masa itu, aku pengen banget mutusin kamu. Rasanya hubungan kita flat banget. Entah karena kita terlalu nyembunyiin hubungan ini sama orang-orang, atau entah karena waktu itu ..."
Aku terdiam lagi. Sambil memikirkan respon dia bagaimana kalau aku pernah berbohong padanya. "Waktu itu, aku pernah deket sama orang lain selain kamu. Maaf." Aku mencoba menahan air mata yang sebentar lagi pasti akan mengalir deras. Rasanya aku malu. Tapi aku tidak mau berbohong lebih lama. Sebenarnya aku berencana mengatakan hal ini padanya suatu hari nanti di saat aku sudah siap. Tapi ya sudahlah. Untuk sekarang, aku terlalu takut memikirkan bagaimana responnya setelah mendengar semua ini.
"Oh.” Jawabnya singkat. Aku pikir, dia pasti sangat kecewa padaku. “Aku tahu kok soal itu. Kamu tuh keliatan banget yah kalau lagi bohong.” Dia memegang tangan kananku dengan kedua tangannya. Aku menatapnya dalam. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena air mataku yang perlahan mulai mengalir “Makasih banyak. Udah jujur." Lagi, dia tersenyum manis. Ah, kenapa. Kenapa dia harus tersenyum disaat seperti ini.
"Maaf, aku bener-bener minta maaf." Aku menangis. Sungguh. Rasanya air mataku mengalir sangat deras. Untuk hari ini, aku merasa aku adalah perempuan yang gak tau diri.
Dia membiarkanku menangis selama beberapa menit. Aku lupa. Tapi itu cukup lama.
"Kamu mau nangis berapa lama? Aku tungguin." Tanyanya tiba-tiba.
Aku berhenti menangis dan menatapnya heran. Sambil sulit mengatur nafas karena tangisan ini. Dan, dia mengusap air mataku dengan kedua tangannya.
"Kalau sekarang aku sedang berada di titik jenuh itu juga, gimana?"
Aku tersenyum masam. Mungkin, ini adalah senyum yang dipaksakan. Aku tahu aku egois. Tapi aku belum siap menerimanya. Walau sangat diluar dugaan dia mengatakan hal itu, tapi seharusnya aku sudah menduga sejak awal bahwa karma itu benar adanya.
"Kalau gitu, gimana kalau kita udahan aja". Kataku dengan spontan.
"Gamau". Jawabnya singkat.
"Terus?"
"Kamu harus tahu, aku gak pernah kepikiran buat pacaran sama orang lain selain kamu. Sejujurnya, aku cuman khawatir satu hal. Mungkin titik jenuh ini diawali karena aku ngerasa kamu masih sulit mengenal aku sebagai pacar kamu."

     Aku menunduk. Semakin merasa bersalah. Itu benar. Selama ini, aku sangat sulit mengenalnya. Hubungan selama 11 tahun bukan menjadi jaminan kita mengenal satu sama lain. Aku berpacaran dengannya sejak kelas 3 SMP, kami juga selalu sekelas. Dan bahkan satu fakultas, walau beda program studi. Dia prodi jurnalistik aku prodi ilmu komunikasi.

     Mungkin, bisa dibilang dia lebih mengenalku jauh dibanding aku mengenalnya. Tapi satu hal, bagaimana cara aku mengenalnya lebih jauh, sementara ia tidak pernah terbuka kepadaku. Maksudku, dia selalu memperlihatkan sisinya yang selalu ceria dan membuatku selalu tertawa, dia romantis dan seringkali melakukan hal diluar dugaan dibanding lelaki lainnya. Tapi sama sekali tidak mau menceritakan hal-hal sedih sekalipun. Rasanya tidak mungkin, manusia selalu hidup bahagia dan membahagiakan orang lain. Ada kalanya ia memiliki rasa marah, sedih, bosan atau hal lainnya. Bukan aku tidak mau bertanya kepadanya. Tapi sejak awal kami berhubungan, dia selalu memintaku untuk jangan bertanya tentang perasaannya hari ini, esok atau yang akan datang. Aku boleh menanyakan hal lain tapi tidak dengan perasaanya. Semantara aku selalu menceritakan setiap detail kehidupanku padanya tanpa terlewat. Dia selalu ada disaat aku sedih bahkan senang sekalipun. Rasanya ini tidak adil kalau dipikir-pikir lagi. Salah siapa aku tidak bisa mengenalnya lebih jauh?
“Maaf, aku gak pernah terbuka soal perasaan aku sama kamu.” Lanjutnya. Ia kemudian memelukku. Aku semakin menangis. Tapi aku selalu bersyukur karena sampai detik ini aku masih bersamanya. Entah alasan apa yang membuatku bertahan lama bersamanya tapi satu yang pasti dia adalah lelaki paling unik yang pernah aku temui. Yang selalu membuat nyaman, walaupun dia bukan lelaki baik seperti pada umumnya kriteria seorang wanita. Semua sikap tentangnya selalu diluar dugaan. Itu yang membuatku bertahan. Walaupun dia selalu tertutup tentang perasaanya padaku, tanpa dia tahu, aku selalu yakin bahwa suatu hari nanti, ia akan terbuka padaku. Aku selalu menunggunya. Bahkan, sampai aku pernah mengkhianatinya sekalipun. Sesungguhnya, aku tidak benar-benar mengkhianatinya. Aku hanya merasa bosan waktu itu aku sama sekali tidak memiliki perasaan dengan lelaki lain, selain dia. Tapi walaupun begitu, aku menyesal pernah melakukan hal itu. Aku bahkan mengutuk diriku sendiri. Dan sangat amat menyesal.
“Maaf juga”. Kataku dalam hati.
Hari semakin gelap. Angin sore yang sejak tadi menjadi pengiring drama sore kita hari ini perlahan semakin kencang. Dan kami, masih tenggelam pada perasaan ini.



Teruntuk kamu, terimakasih. Aku tidak tahu berapa lama lagi hubungan ini akan tetap bertahan, tapi aku akan selalu percaya semua yang terbaik untuk kita.





Amphiteather
10 Oktober 2016
20.30 WIB







Selamat tidur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...