Waktu menunjukkan pukul 16.16
WIB. Selesai kelas mata kuliah perencanaan komunikasi, aku langsung bergegas
menemuinya di Amphitheater. Amphitheater adalah sebuah tempat di Fakultasku,
Ilmu Komunikasi. Tempat ini merupakan tempat yang sangat dia suka. Selain sepi,
dan tempatnya juga sangat luas. Sedikit gambaran, di Amphiteater ini juga, ada
semacam panggung yang berbentuk persegi panjang yang mungkin sengaja dibuat
untuk acara tertentu. Di depan panggung tersebut terdapat jarak sekitar 5-7
meter lalu ada seperti tangga-tangga di sekelilingnya. Ah iya. Kalo kamu pergi
ke stadion sepak bola, mirip seperti itu. Tangga-tangganya semacam tempat
duduk, melingkar, setengah lingkaran di depan panggung.
Dari jauh, aku sudah melihatnya duduk
dipanggung itu dan sedang sibuk dengan laptopnya. Aku menuruni anak tangga
untuk sampai ke Amphiteater. Sambil membawa jus Strawberry di kedua tangan
kanan dan kiriku yang aku beli selesai kelas tadi.
Aku baru saja sampai. Dan dia
menutup laptopnya setelah menyadari kedatanganku.
"Udah lama disini?"
Tanyaku memulai obrolan.
"Udah." Dia tersenyum.
Aku memberikan jus Strawberry
yang tadi aku bawa untuknya. Tanpa berkata, ia langsung meminum jus yang aku
berikan. Angin sore ini, lumayan kencang. Aku melihat rambutnya yang sedikit
acak-acakan terkena angin. Kemudian, aku duduk disamping kirinya. Menaruh tasku
dan meminum juga jus Strawberry milikku.
"Gimana tadi
kelasnya?." Tanyanya tiba-tiba.
“Seperti biasa. Kamu?” Jawabku.
Dia mengangguk pelan.
"Sama."
Setelah itu kami terdiam cukup
lama, sampai akhirnya dia mulai memecah keheningan. Tahu-tahu ia membaringkan
tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya dibawah untuk dijadikan penyanggah
kepala dan menatap langit sore yang perlahan mulai gelap.
"Aku mau nanya sesuatu,
boleh?"
Aku dengan susah payah menelan
ludah. Masih diposisi duduk aku menaruh jusku yang sudah habis setengahnya dan
tanpa menoleh kearahnya yang tengah berbaring. Entah mengapa, aku memiliki
firasat buruk akan hal ini. Ini bukan dia yang seperti biasanya.
"Nanya apa?"
"Kamu ..". Jawabnya
terputus. Dia mencoba bangun. Lalu menatapku dengan tatapan yang sangat amat
serius. Membuatku sedikit takut. "Kamu pernah merasa bosan gak sih sama
aku?"
DEG!. Itu adalah pertanyaan yang
sama sekali di luar dugaan. Aku mengembuskan napas panjang. Mencoba
mengingat-ngingat masa lalu.
"Pernah." Aku
mengangguk lemah dan tanpa berpikir panjang.
"Kapan?"
"Waktu semester 2. Aku
ngerasa itu adalah titik jenuh aku berhubungan sama kamu.”
Aku terdiam sejenak, menghembuskan
napas dan mencoba melanjutkan ceritaku. “Aku gak bisa bohong, kalau di
masa-masa itu, aku pengen banget mutusin kamu. Rasanya hubungan kita flat
banget. Entah karena kita terlalu nyembunyiin hubungan ini sama orang-orang,
atau entah karena waktu itu ..."
Aku terdiam lagi. Sambil
memikirkan respon dia bagaimana kalau aku pernah berbohong padanya. "Waktu
itu, aku pernah deket sama orang lain selain kamu. Maaf." Aku mencoba
menahan air mata yang sebentar lagi pasti akan mengalir deras. Rasanya aku
malu. Tapi aku tidak mau berbohong lebih lama. Sebenarnya aku berencana
mengatakan hal ini padanya suatu hari nanti di saat aku sudah siap. Tapi ya
sudahlah. Untuk sekarang, aku terlalu takut memikirkan bagaimana responnya
setelah mendengar semua ini.
"Oh.” Jawabnya singkat. Aku
pikir, dia pasti sangat kecewa padaku. “Aku tahu kok soal itu. Kamu tuh
keliatan banget yah kalau lagi bohong.” Dia memegang tangan kananku dengan
kedua tangannya. Aku menatapnya dalam. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas,
karena air mataku yang perlahan mulai mengalir “Makasih banyak. Udah
jujur." Lagi, dia tersenyum manis. Ah, kenapa. Kenapa dia harus tersenyum
disaat seperti ini.
"Maaf, aku bener-bener minta
maaf." Aku menangis. Sungguh. Rasanya air mataku mengalir sangat deras.
Untuk hari ini, aku merasa aku adalah perempuan yang gak tau diri.
Dia membiarkanku menangis selama
beberapa menit. Aku lupa. Tapi itu cukup lama.
"Kamu mau nangis berapa
lama? Aku tungguin." Tanyanya tiba-tiba.
Aku berhenti menangis dan
menatapnya heran. Sambil sulit mengatur nafas karena tangisan ini. Dan, dia
mengusap air mataku dengan kedua tangannya.
"Kalau sekarang aku sedang
berada di titik jenuh itu juga, gimana?"
Aku tersenyum masam. Mungkin, ini
adalah senyum yang dipaksakan. Aku tahu aku egois. Tapi aku belum siap
menerimanya. Walau sangat diluar dugaan dia mengatakan hal itu, tapi seharusnya
aku sudah menduga sejak awal bahwa karma itu benar adanya.
"Kalau gitu, gimana kalau
kita udahan aja". Kataku dengan spontan.
"Gamau". Jawabnya
singkat.
"Terus?"
"Kamu harus tahu, aku gak
pernah kepikiran buat pacaran sama orang lain selain kamu. Sejujurnya, aku
cuman khawatir satu hal. Mungkin titik jenuh ini diawali karena aku ngerasa
kamu masih sulit mengenal aku sebagai pacar kamu."
Aku menunduk. Semakin merasa
bersalah. Itu benar. Selama ini, aku sangat sulit mengenalnya. Hubungan selama
11 tahun bukan menjadi jaminan kita mengenal satu sama lain. Aku berpacaran
dengannya sejak kelas 3 SMP, kami juga selalu sekelas. Dan bahkan satu
fakultas, walau beda program studi. Dia prodi jurnalistik aku prodi ilmu
komunikasi.
Mungkin, bisa dibilang dia lebih
mengenalku jauh dibanding aku mengenalnya. Tapi satu hal, bagaimana cara aku
mengenalnya lebih jauh, sementara ia tidak pernah terbuka kepadaku. Maksudku,
dia selalu memperlihatkan sisinya yang selalu ceria dan membuatku selalu
tertawa, dia romantis dan seringkali melakukan hal diluar dugaan dibanding
lelaki lainnya. Tapi sama sekali tidak mau menceritakan hal-hal sedih
sekalipun. Rasanya tidak mungkin, manusia selalu hidup bahagia dan
membahagiakan orang lain. Ada kalanya ia memiliki rasa marah, sedih, bosan atau
hal lainnya. Bukan aku tidak mau bertanya kepadanya. Tapi sejak awal kami
berhubungan, dia selalu memintaku untuk jangan bertanya tentang perasaannya hari
ini, esok atau yang akan datang. Aku boleh menanyakan hal lain tapi tidak
dengan perasaanya. Semantara aku selalu menceritakan setiap detail kehidupanku
padanya tanpa terlewat. Dia selalu ada disaat aku sedih bahkan senang
sekalipun. Rasanya ini tidak adil kalau dipikir-pikir lagi. Salah siapa aku
tidak bisa mengenalnya lebih jauh?
“Maaf, aku gak pernah terbuka
soal perasaan aku sama kamu.” Lanjutnya. Ia kemudian memelukku. Aku semakin
menangis. Tapi aku selalu bersyukur karena sampai detik ini aku masih
bersamanya. Entah alasan apa yang membuatku bertahan lama bersamanya tapi satu
yang pasti dia adalah lelaki paling unik yang pernah aku temui. Yang selalu
membuat nyaman, walaupun dia bukan lelaki baik seperti pada umumnya kriteria
seorang wanita. Semua sikap tentangnya selalu diluar dugaan. Itu yang membuatku
bertahan. Walaupun dia selalu tertutup tentang perasaanya padaku, tanpa dia
tahu, aku selalu yakin bahwa suatu hari nanti, ia akan terbuka padaku. Aku
selalu menunggunya. Bahkan, sampai aku pernah mengkhianatinya sekalipun.
Sesungguhnya, aku tidak benar-benar mengkhianatinya. Aku hanya merasa bosan
waktu itu aku sama sekali tidak memiliki perasaan dengan lelaki lain, selain
dia. Tapi walaupun begitu, aku menyesal pernah melakukan hal itu. Aku bahkan
mengutuk diriku sendiri. Dan sangat amat menyesal.
“Maaf juga”. Kataku dalam hati.
Hari semakin gelap. Angin sore
yang sejak tadi menjadi pengiring drama sore kita hari ini perlahan semakin
kencang. Dan kami, masih tenggelam pada perasaan ini.
Teruntuk kamu, terimakasih. Aku
tidak tahu berapa lama lagi hubungan ini akan tetap bertahan, tapi aku akan
selalu percaya semua yang terbaik untuk kita.
Amphiteather
10 Oktober 2016
20.30 WIB
Selamat tidur.
Komentar
Posting Komentar