Langsung ke konten utama

Satu Hari, di Bulan Januari

Hujan semakin lebat. Kami memutuskan untuk meneduh di halte bus dipinggir jalan. Setelah selesai memarkirkan motor di dekat halte bus, dia menarik tanganku dan kami berlari kecil untuk sampai di halte. Ada banyak orang yang juga berteduh disana. Setelah kami sampai di halte, semua orang dengan refleks bergeser seolah memberikan tempat untuk kami berteduh. Aku dan dia lalu bergabung dalam kerumunan itu, menunggu hujan berhenti untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke rumahku. Waktu menunjukkan pukul 19.00 malam dan hujan semakin deras.
Setelah beberapa menit di halte, dan masih menunggu hujan berhenti, aku terkaget saat dia tiba-tiba berbisik padaku.
"Diem, jangan kabur dulu lagi hujan." Bisiknya pelan.
Aku tersenyum tanpa jawaban. Suara hujan serta suara kendaraan-kendaraan yang melewati halte seolah menjadi backsound kami sore ini. Semua orang seperti terhanyut dalam hujan. Hanya memandang hilir mudik kendaraan di jalan raya dengan pikiran mereka masing-masing.
1 jam kemudian, hujan mulai sedikit reda. Halte tempat kami berteduh yang tadinya ramai kini hanya tinggal 6 orang lagi termasuk kami didalamnya.
"Mau pulang sekarang?" Tanyanya setelah hampir satu jam kami tidak berbicara satu sama lain.
"Kamu emang ga apa-apa? Kalau masih hujan jangan deh, tunggu reda aja." Jawabku
"Aku sih gamau pulang dulu, tapi kamu udah malem."
"Yaudah, diem aja dulu sampai reda."
Lalu kami kembali terdiam. Menatap jalanan. Semua orang yang ada di halte sudah pergi. Tinggal kami berdua.
"Untuk kesekian kalinya, kita jalan selalu kehujanan." Katanya masih sambil menatap jalanan.
Aku terdiam.
"Maaf yah." Sambungnya lagi.
Aku yang tadinya sedang menatap jalanan dengan pikiran-pikiranku yang tak tahu arahnya kemana, tiba-tiba dengan refleks menatap ke arahnya yang kebetulan berada disisi kananku.
"Atas dasar apa kamu minta maaf?"
"Semuanya." Dia menarik napas dalam. "Sepertinya aku terlalu ambisi atas perasaan aku ini ke kamu, sampai bingung gimana caranya bikin kamu seneng."
Aku dengan susah payah menelan ludah. Jantungku seolah ditekan begitu keras sampai aku sedikit sulit bernapas. Dia yang selama ini selalu baik padaku, bahkan meminta maaf karena belum bisa membuatku senang? Tanyaku dalam hati. Sementara aku? Aku bahkan pernah dan sering membuatnya terluka karena selalu mengabaikannya. Tuhan, maaf. Aku benar-benar minta maaf.
Selama beberapa menit kami terdiam sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Hari itu, sebenarnya aku dijemput di kantor setelah pulang kerja. Aku tidak pernah memintanya. Dia hanya menunggu didepan kantorku setelah dia juga pulang bekerja.


Semenjak sore itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk bisa menerimanya atau paling tidak, tidak mengabaikannya lagi. Meski aku takut untuk kembali memulai, tapi seiring berjalannya waktu, ternyata dia yang selalu ada bisa merubahku perlahan-lahan. Tidak hanya itu, bahkan membuatku sadar, bahwa selalu ada masa dimana seseorang di masa lalu dapat digantikan dengan yang lebih baik.


Kamu lihat? meski aku berjalan perlahan tapi aku selalu berusaha untuk sampai tujuan
Mereka yang berlari, seringkali lelah dan tidak melanjutkannya sampai titik akhir
Terimakasih untuk segalanya







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...