Hujan semakin lebat. Kami memutuskan untuk meneduh di halte bus dipinggir jalan. Setelah selesai memarkirkan motor di dekat halte bus, dia menarik tanganku dan kami berlari kecil untuk sampai di halte. Ada banyak orang yang juga berteduh disana. Setelah kami sampai di halte, semua orang dengan refleks bergeser seolah memberikan tempat untuk kami berteduh. Aku dan dia lalu bergabung dalam kerumunan itu, menunggu hujan berhenti untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke rumahku. Waktu menunjukkan pukul 19.00 malam dan hujan semakin deras.
Setelah beberapa menit di halte, dan masih menunggu hujan berhenti, aku terkaget saat dia tiba-tiba berbisik padaku.
"Diem, jangan kabur dulu lagi hujan." Bisiknya pelan.
Aku tersenyum tanpa jawaban. Suara hujan serta suara kendaraan-kendaraan yang melewati halte seolah menjadi backsound kami sore ini. Semua orang seperti terhanyut dalam hujan. Hanya memandang hilir mudik kendaraan di jalan raya dengan pikiran mereka masing-masing.
1 jam kemudian, hujan mulai sedikit reda. Halte tempat kami berteduh yang tadinya ramai kini hanya tinggal 6 orang lagi termasuk kami didalamnya.
"Mau pulang sekarang?" Tanyanya setelah hampir satu jam kami tidak berbicara satu sama lain.
"Kamu emang ga apa-apa? Kalau masih hujan jangan deh, tunggu reda aja." Jawabku
"Aku sih gamau pulang dulu, tapi kamu udah malem."
"Yaudah, diem aja dulu sampai reda."
Lalu kami kembali terdiam. Menatap jalanan. Semua orang yang ada di halte sudah pergi. Tinggal kami berdua.
"Untuk kesekian kalinya, kita jalan selalu kehujanan." Katanya masih sambil menatap jalanan.
Aku terdiam.
"Maaf yah." Sambungnya lagi.
Aku yang tadinya sedang menatap jalanan dengan pikiran-pikiranku yang tak tahu arahnya kemana, tiba-tiba dengan refleks menatap ke arahnya yang kebetulan berada disisi kananku.
"Atas dasar apa kamu minta maaf?"
"Semuanya." Dia menarik napas dalam. "Sepertinya aku terlalu ambisi atas perasaan aku ini ke kamu, sampai bingung gimana caranya bikin kamu seneng."
Aku dengan susah payah menelan ludah. Jantungku seolah ditekan begitu keras sampai aku sedikit sulit bernapas. Dia yang selama ini selalu baik padaku, bahkan meminta maaf karena belum bisa membuatku senang? Tanyaku dalam hati. Sementara aku? Aku bahkan pernah dan sering membuatnya terluka karena selalu mengabaikannya. Tuhan, maaf. Aku benar-benar minta maaf.
Selama beberapa menit kami terdiam sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Hari itu, sebenarnya aku dijemput di kantor setelah pulang kerja. Aku tidak pernah memintanya. Dia hanya menunggu didepan kantorku setelah dia juga pulang bekerja.
Semenjak sore itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk bisa menerimanya atau paling tidak, tidak mengabaikannya lagi. Meski aku takut untuk kembali memulai, tapi seiring berjalannya waktu, ternyata dia yang selalu ada bisa merubahku perlahan-lahan. Tidak hanya itu, bahkan membuatku sadar, bahwa selalu ada masa dimana seseorang di masa lalu dapat digantikan dengan yang lebih baik.
Kamu lihat? meski aku berjalan perlahan tapi aku selalu berusaha untuk sampai tujuan
Mereka yang berlari, seringkali lelah dan tidak melanjutkannya sampai titik akhir
Terimakasih untuk segalanya
Setelah beberapa menit di halte, dan masih menunggu hujan berhenti, aku terkaget saat dia tiba-tiba berbisik padaku.
"Diem, jangan kabur dulu lagi hujan." Bisiknya pelan.
Aku tersenyum tanpa jawaban. Suara hujan serta suara kendaraan-kendaraan yang melewati halte seolah menjadi backsound kami sore ini. Semua orang seperti terhanyut dalam hujan. Hanya memandang hilir mudik kendaraan di jalan raya dengan pikiran mereka masing-masing.
1 jam kemudian, hujan mulai sedikit reda. Halte tempat kami berteduh yang tadinya ramai kini hanya tinggal 6 orang lagi termasuk kami didalamnya.
"Mau pulang sekarang?" Tanyanya setelah hampir satu jam kami tidak berbicara satu sama lain.
"Kamu emang ga apa-apa? Kalau masih hujan jangan deh, tunggu reda aja." Jawabku
"Aku sih gamau pulang dulu, tapi kamu udah malem."
"Yaudah, diem aja dulu sampai reda."
Lalu kami kembali terdiam. Menatap jalanan. Semua orang yang ada di halte sudah pergi. Tinggal kami berdua.
"Untuk kesekian kalinya, kita jalan selalu kehujanan." Katanya masih sambil menatap jalanan.
Aku terdiam.
"Maaf yah." Sambungnya lagi.
Aku yang tadinya sedang menatap jalanan dengan pikiran-pikiranku yang tak tahu arahnya kemana, tiba-tiba dengan refleks menatap ke arahnya yang kebetulan berada disisi kananku.
"Atas dasar apa kamu minta maaf?"
"Semuanya." Dia menarik napas dalam. "Sepertinya aku terlalu ambisi atas perasaan aku ini ke kamu, sampai bingung gimana caranya bikin kamu seneng."
Aku dengan susah payah menelan ludah. Jantungku seolah ditekan begitu keras sampai aku sedikit sulit bernapas. Dia yang selama ini selalu baik padaku, bahkan meminta maaf karena belum bisa membuatku senang? Tanyaku dalam hati. Sementara aku? Aku bahkan pernah dan sering membuatnya terluka karena selalu mengabaikannya. Tuhan, maaf. Aku benar-benar minta maaf.
Selama beberapa menit kami terdiam sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Hari itu, sebenarnya aku dijemput di kantor setelah pulang kerja. Aku tidak pernah memintanya. Dia hanya menunggu didepan kantorku setelah dia juga pulang bekerja.
Semenjak sore itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk bisa menerimanya atau paling tidak, tidak mengabaikannya lagi. Meski aku takut untuk kembali memulai, tapi seiring berjalannya waktu, ternyata dia yang selalu ada bisa merubahku perlahan-lahan. Tidak hanya itu, bahkan membuatku sadar, bahwa selalu ada masa dimana seseorang di masa lalu dapat digantikan dengan yang lebih baik.
Kamu lihat? meski aku berjalan perlahan tapi aku selalu berusaha untuk sampai tujuan
Mereka yang berlari, seringkali lelah dan tidak melanjutkannya sampai titik akhir
Terimakasih untuk segalanya
Komentar
Posting Komentar