Ada rasa sakit saat kamu menyebut nama orang lain selain aku. Kita yang dulu pernah dekat, kini hanya jarak yang aku rasa. Kamu seolah menjauh perlahan dengan membicarakan orang lain kepadaku. Aku tahu, itu mungkin saja hanya perasaanku. Tapi bukan itu maksudku. Aku merasa ini menjadi tidak adil bagiku, karena semua ini hanya tanpa kejelasan. Tapi kejelasan apa yang sedang aku cari? Bukankah dari awal memang tidak ada kejelasan? Ah, aku hanya terlalu percaya diri.
Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka? Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Komentar
Posting Komentar