Langsung ke konten utama

Klarifikasi Sosok Kayla (Bahagia yang Sederhana oleh Puji Astuti)

Aku baru saja membaca sebuah cerita di Wattpad. Kayla? begitulah nama dari karakter cerita tersebut. Aku seperti kenal sosok Kayla. Ceritanya seperti sebuah cermin. Kayla itu tentangku?
Dalam ceritanya, Kayla digambarkan sebagai orang yang ceria. Ah? Apakah aku sosok seperti itu?
Digambarkan pula, bahwa Kayla adalah sosok yang pandai menyembunyikan luka.
Si penulis memang tidak mengatakan secara langsung, itu tentangku. Hanya saja, aku merasa itu aku.

Aku ingin klarifikasi sosok Kayla. Sekarang.

Setau aku, sesekali Kayla memang ceria dan periang. Benar apa kata si penulis itu. Dia itu receh. Seringkali, di bioskop nonton apapun genre film, dia selalu menertawakannya. Tapi, ia hanya terlihat seperti itu, jika ia merasa orang disekelilingnya membuatnya nyaman. Jika bertemu orang asing, dia tak pernah seberani itu dan seceria itu. Dia berbeda. Dia mungkin perlu beradaptasi dengan mereka yang baru, karena kejadian yang tidak menyenangkan di masa lalu. Pertemanannya di masa lalu memang cukup rumit. Hal ini, membuat dia trauma untuk berteman. Seringkali begitu.


Kayla pandai menyembunyikan luka?
Aku tidak tahu banyak hal tentang ini. Setau aku, dia tidak sepandai itu. Memang benar. Sekuat apapun sembunyi, pertahanan akan goyah. Si penulis sepertinya adalah orang yang kesekian yang juga pintar memergoki Kayla yang sedang rapuh. Memaksakan Kayla untuk berpura-pura baik-baik saja didepannya, tapi nyatanya tidak sebaik itu.


Selalu menyalahkan diri sendiri? Kayla memang seperti itu. Sejak sekolah dasar. Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Bahkan orang tuanya sendiri. Namun, belakangan ini, semenjak duduk dibangku kuliah, dia mulai sedikit terbuka tentang dirinya. Pada satu orang sahabatnya. Sebut saja Rafa. Sahabat yang berhasil membuka dirinya perlahan. Kayla sangat berterimakasih padanya. Sejak saat itu, Kayla berubah drastis. Dia berpikir, sesekali masalah memang tidak selalu harus dipendam sendirian.
Waktu berlalu, walaupun dia mulai sedikit terbuka, menyalahkan diri sendiri atas setiap kesalahan tidak pernah sembuh dalam dirinya, bahkan sampai detik ini. Kayla selalu merasa seolah-olah apa yang terjadi didepan matanya, adalah kesalahannya. Contoh kecil, jika salah satu temannya terjatuh dihadapannya, ia akan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mengingatkan temannya. Hal-hal kecil seperti itu, seringkali membuat dia menyalahkan dirinya sendiri. Tidak hanya itu, hal-hal detail lain yang menyangkut dirinya, dia akan selalu menyalahkan dirinya.


Terakhir. Sumber kebahagiaan Kayla adalah keluarga. Aku setuju. Kamu tahu, Kayla rela berkorban apapun demi keluarganya, ayah, ibu dan tentu adiknya. Dia selalu mengutamakan keluarganya di atas yang lain. Aku tidak tahu, bagaimana hidupnya jika harus hidup tanpa keluarganya.


Itu yang aku tahu tentang Kayla.
Aku iri pada si penulis karakter Kayla. Dia pintar merangkai kata. Setauku, penulis itu juga sosok yang tangguh. Harusnya, dia menulis tentang dirinya sendiri. Aku yakin, cerita tentang kehidupannya akan sangat inspiratif dibanding tentangku.

Oh, kamu bisa baca tentang Kayla disini https://www.wattpad.com/741876366-langkah-kaki-21-bahagia-yang-sederhana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...