Langsung ke konten utama

Sebuah Kutukan?


Dari jauh, aku sudah mendengar suara langkahnya dengan sangat jelas. Segera ku merapikan diriku sendiri dalam sekian detik, agar terlihat cantik didepannya. Meja kerjaku yang acak-acakan dengan sangat ajaibnya dalam sekian detik menjadi rapi seketika. Seolah-olah seperti disulap oleh sihir. Semakin dekat suara langkah, semakin pula perasaanku menjadi tidak karuan. Sampai akhirnya suara pintu terbuka membuat diriku yang sejak tadi merasa tidak karuan semakin dan semakin menjadi tidak karuan lagi. Dia kemudian duduk didepanku, di kursi dengan sekat meja, tepat berhadapan denganku yang sedang berpura-pura mengetik di laptop, padahal kamu mungkin tahu, sejak mendengar langkahnya pun aku kemudian sudah tidak fokus lagi dengan apa yang sedang aku kerjakan tadi.

“Put, Put. Aku punya berita.”Katanya dengan sangat antusias.

''Apa?.”Aku menjawab singkat dengan ekspresi yang aku sendiripun takut ketahuan didepannya. Dan juga, aku cukup antusias untuk mendengar ceritanya. Kamu juga mungkin akan sepertiku jika sedang menyukai seseorang. Inginnya ngobrol dan deket-deket berdua. Ya kan?”

”Aku, jadian sama Frisca.”

Berita itu seolah-olah menjadi petir di siang bolong. Rasa tidak karuan yang aku rasakan tadi, tiba-tiba berubah menjadi rasa sakit yang juga sama tidak karuan. Aku sibuk mengatur perasaanku sendiri, sibuk menata ekspresi apa yang harus aku tampilkan didepannya. Aku bingung.

“Hah? A-apa? Ka-kamu jadian.”Jawabku terbata.

”Iya.” Dia mengangguk. Anggukannya seolah menjadi sebuah penguat dari jawabannya.

Aku rasanya ingin menangis ditempat itu juga. Tapi tahan tolong. Jangan didepan dia. Aku sangat berusaha keras pada diriku sendiri. Ah, Tuhan kenapa ini sakit sekali?
Aku menarik napas. “Wah, selamat ya Bim.” Aku memaksakan ekspresiku. Mungkin ceritanya aku ikut bahagia, tapi nyatanya sebaliknya.

“Makasih ya Put. Eh, aku ke mejaku yah. Nanti kita makan siang bareng, oke?. Dia kemudian beranjak dari tempat duduk tanpa mendengar jawabanku.
Aku sangat merasa bersyukur, dia pergi secepat itu. Tanpa sadar, setelah sekian detik kepergiannya, aku menangis. Air mata yang sedari tadi aku tahan, kemudian mengalir deras. Seolah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar kecuali didepannya. Sakit. Gila, ini sakit banget. Aku sudah mengharapkannya sejak setahun lalu. Aku sudah berusaha mungkin menjadi yang terbaik didepannya, menjadi cantik didepannya, bahkan, merubah diriku sendiri untuk tampil sesempurna mungkin didepannya. Tapi semua itu menjadi nihil. Dia tidak suka padaku. Bodoh.

Aku mengutuk diriku sendiri, kurang apa aku selama ini, sampai dia tidak pernah melihatku?

Ah, Aku ingin mengungkapkan perasaanku juga, tapi rasanya aneh jika aku yang mengungkapkannya duluan. Mau ditaruh dimana mukaku jika aku bilang kalau suka padanya? Mungkin setelah aku bilang suka padanya juga dia akan ilfeel padaku. Banyak yang bilang, kalau pria tidak suka wanita yang agresif yang ngungkapin perasaanya duluan. Aku takut. Takut dianggap seperti itu. Aku bingung.

Banyak orang juga yang bilang, terlalu drama, masih banyak pria lain yang lebih. Tapi kamu perlu tahu, berpindah kelain hati itu sulit. Aku bilang, mereka juga terlalu drama. Seolah mempermudah sesuatu, yang sudah sangat jelas memerlukan proses.
Aku wanita. Aku tahu, ini bukan kutukan karena terlahir wanita, tapi aku mengutuk kontruksi manusia tentang wanita. Aku juga ingin diberikan kesempatan yang sama juga untuk mengungkapkan perasaan. Ah, tapi “wanita harus menunggu” menjadi sebuah pondasi konstruksi yang sangat kuat. Aku menjadi malu bahkan untuk memberi kode bahwa aku suka.

Sejak saat itu, aku selalu berusaha sekeras mungkin untuk berakting terus didepannya. Sampai kapan? Aku belum menemukan jawabannya. Setiap harinya, menjadi berat. Ditambah lagi, aku harus selalu mendengarkan curhatnya tentang wanita itu. Ah sial.
Tapi, yasudahlah. Aku pasrah. Aku tahu, mungkin, ini hanya mungkin dia bukan untukku sekarang. Mungkin saja besok kan? Siapa yang tahu, besok dia akan berpisah dengan wanita itu. Katanya, sebelum janur kuning melengkung. Hahaha.

Maaf. Ternyata masih ada banyak kesempatan sebelum janur kuning melengkung.
Tanpa sadar, senyum tersungging dibibirku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...