Dari jauh, aku sudah mendengar
suara langkahnya dengan sangat jelas. Segera ku merapikan diriku sendiri dalam
sekian detik, agar terlihat cantik didepannya. Meja kerjaku yang acak-acakan
dengan sangat ajaibnya dalam sekian detik menjadi rapi seketika. Seolah-olah
seperti disulap oleh sihir. Semakin dekat suara langkah, semakin pula
perasaanku menjadi tidak karuan. Sampai akhirnya suara pintu terbuka membuat
diriku yang sejak tadi merasa tidak karuan semakin dan semakin menjadi tidak
karuan lagi. Dia kemudian duduk didepanku, di kursi dengan sekat meja, tepat
berhadapan denganku yang sedang berpura-pura mengetik di laptop, padahal kamu
mungkin tahu, sejak mendengar langkahnya pun aku kemudian sudah tidak fokus lagi
dengan apa yang sedang aku kerjakan tadi.
“Put, Put. Aku punya berita.”Katanya
dengan sangat antusias.
''Apa?.”Aku menjawab singkat dengan
ekspresi yang aku sendiripun takut ketahuan didepannya. Dan juga, aku cukup
antusias untuk mendengar ceritanya. Kamu juga mungkin akan sepertiku jika
sedang menyukai seseorang. Inginnya ngobrol dan deket-deket berdua. Ya kan?”
”Aku, jadian sama Frisca.”
Berita itu seolah-olah menjadi
petir di siang bolong. Rasa tidak karuan yang aku rasakan tadi, tiba-tiba
berubah menjadi rasa sakit yang juga sama tidak karuan. Aku sibuk mengatur
perasaanku sendiri, sibuk menata ekspresi apa yang harus aku tampilkan
didepannya. Aku bingung.
“Hah? A-apa? Ka-kamu jadian.”Jawabku
terbata.
”Iya.” Dia mengangguk. Anggukannya
seolah menjadi sebuah penguat dari jawabannya.
Aku rasanya ingin menangis
ditempat itu juga. Tapi tahan tolong. Jangan didepan dia. Aku sangat berusaha
keras pada diriku sendiri. Ah, Tuhan kenapa ini sakit sekali?
Aku menarik napas. “Wah, selamat
ya Bim.” Aku memaksakan ekspresiku. Mungkin ceritanya aku ikut bahagia, tapi nyatanya
sebaliknya.
“Makasih ya Put. Eh, aku ke
mejaku yah. Nanti kita makan siang bareng, oke?. Dia kemudian beranjak dari
tempat duduk tanpa mendengar jawabanku.
Aku sangat merasa bersyukur, dia
pergi secepat itu. Tanpa sadar, setelah sekian detik kepergiannya, aku menangis.
Air mata yang sedari tadi aku tahan, kemudian mengalir deras. Seolah tidak
peduli lagi dengan keadaan sekitar kecuali didepannya. Sakit. Gila, ini sakit
banget. Aku sudah mengharapkannya sejak setahun lalu. Aku sudah berusaha mungkin
menjadi yang terbaik didepannya, menjadi cantik didepannya, bahkan, merubah
diriku sendiri untuk tampil sesempurna mungkin didepannya. Tapi semua itu
menjadi nihil. Dia tidak suka padaku. Bodoh.
Aku mengutuk diriku sendiri,
kurang apa aku selama ini, sampai dia tidak pernah melihatku?
Ah, Aku ingin mengungkapkan perasaanku juga, tapi rasanya aneh jika aku yang mengungkapkannya duluan. Mau ditaruh dimana mukaku jika aku bilang kalau suka padanya? Mungkin setelah aku bilang suka padanya juga dia akan ilfeel padaku. Banyak yang bilang, kalau pria tidak suka wanita yang agresif yang ngungkapin perasaanya duluan. Aku takut. Takut dianggap seperti itu. Aku bingung.
Ah, Aku ingin mengungkapkan perasaanku juga, tapi rasanya aneh jika aku yang mengungkapkannya duluan. Mau ditaruh dimana mukaku jika aku bilang kalau suka padanya? Mungkin setelah aku bilang suka padanya juga dia akan ilfeel padaku. Banyak yang bilang, kalau pria tidak suka wanita yang agresif yang ngungkapin perasaanya duluan. Aku takut. Takut dianggap seperti itu. Aku bingung.
Banyak orang juga yang bilang,
terlalu drama, masih banyak pria lain yang lebih. Tapi kamu perlu tahu, berpindah
kelain hati itu sulit. Aku bilang, mereka juga terlalu drama. Seolah mempermudah
sesuatu, yang sudah sangat jelas memerlukan proses.
Aku wanita. Aku tahu, ini bukan
kutukan karena terlahir wanita, tapi aku mengutuk kontruksi manusia tentang wanita.
Aku juga ingin diberikan kesempatan yang sama juga untuk mengungkapkan
perasaan. Ah, tapi “wanita harus menunggu” menjadi sebuah pondasi konstruksi
yang sangat kuat. Aku menjadi malu bahkan untuk memberi kode bahwa aku suka.
Sejak saat itu, aku selalu
berusaha sekeras mungkin untuk berakting terus didepannya. Sampai kapan? Aku belum
menemukan jawabannya. Setiap harinya, menjadi berat. Ditambah lagi, aku harus selalu
mendengarkan curhatnya tentang wanita itu. Ah sial.
Tapi, yasudahlah. Aku pasrah. Aku
tahu, mungkin, ini hanya mungkin dia bukan untukku sekarang. Mungkin saja besok
kan? Siapa yang tahu, besok dia akan berpisah dengan wanita itu. Katanya,
sebelum janur kuning melengkung. Hahaha.
Maaf. Ternyata masih ada banyak kesempatan sebelum
janur kuning melengkung.
Tanpa sadar, senyum tersungging dibibirku.
Tanpa sadar, senyum tersungging dibibirku.
Komentar
Posting Komentar