Aku sudah mengenalnya sejak 6 tahun lalu. Pendiam, perasa dan juga pemikir.
Dulu, kami tidak terlalu dekat, bahkan bisa dibilang aku hanya tahu tentangnya tapi tidak mendalam. Yang aku tahu, dia pintar. Banyak pria yang mencoba mendekatinya. Bahkan, jika aku pria, mungkin aku akan berada dibarisan itu. Dia baik. Aku paham, jika banyak yang mencoba mendekatinya.
Semakin mengenalnya, ada banyak cerita yang mengejutkan dalam hidupnya. Dan semakin mengenalnya pula aku selalu ingin berada dibaris terdepan sebagai sahabatnya. Menjadi definisi sahabat yang sebenarnya. Mendengarkan saat butuh didengarkan, berada disinya saat dibutuhkan dan mungkin membantunya dikala sulit.
Bertahun-tahun mengenalnya, rasanya aku masih belum mengenalnya lebih jauh. Banyak cerita-cerita lain yang tidak aku tahu. Ah, mungkin perlu pendekatan lebih jauh, dia tidak seterbuka itu.
Kami memiliki banyak cerita yang sama, terutama soal ketakutan dan terlebih takut pada diri sendiri. Seringkali, masing-masing dari kami sibuk menyalahkan diri sendiri tanpa tahu cara menghentikannya. Seringkali, kami merasa tidak adil atas perasaan-perasaan itu. Oh iya, satu lagi kesamaan kami adalah kami sama-sama suka menulis. Menulis seperti sebuah pelampiasan, atas perasaan-perasaan yang tidak dapat dideksripsikan.
Saat ini, masing-masing dari kami dirasa sudah dewasa. Walau masih saja menyalahkan diri, tapi saling menyemangati.
Aku juga senang. Sekarang, dia sudah bersama seseorang yang mungkin bisa menjaganya lebih dari aku.
Teruntuk Putri, aku sayang kamu.
Sejujurnya, aku ingin bilang langsung, tapi maaf aku gengsi.
Komentar
Posting Komentar