Langsung ke konten utama

Karena, segala kebaikan yang kita perbuat, maka akan kembali baik pada kita


Beberapa hari ini, aku belajar banyak. Sampai kemarin aku dibuat mikir seharian, bagaimana seharusnya aku bertindak. Mungkin menurut orang, itu adalah hal sepele, tapi buatku, tidak. Aku memang pemikir ulung. Segalanya selalu menjadi bahan untuk berpikir, sampai kadang lupa dengan yang lainnya.

Sedikit cerita, seperti biasa, kehidupan manusia selalu ada konflik. Dan aku adalah tipe orang yang selalu ingin hidup damai, tidak terlibat dalam konflik, tidak menjadi tokoh utama dalam konflik dan kalau perlu tidak tahu menahu tentang konflik. Aku benar-benar ingin hidup damai sedamai-damainya. Tapi nyatanya, tidak ada kehidupan damai sedamai-damainya itu. Justru konflik memang dihadirkan supaya kehidupan lebih beragam, supaya manusia berpikir, supaya manusia bertindak dan terlebih supaya manusia dapat mengontrol diri.

Berbagai konflik, menyeretku masuk kedalamnya. Semua orang saling memanas-manasi, semua orang saling merasa benar dan semua orang merasa perannya sangat penting dalam konflik ini. Sungguh, aku tidak ingin peduli, tapi mereka seolah memancingku perlahan. Aku berusaha untuk diam, menetralkan, lagi-lagi berusaha keras mengontrol diri agar tidak terpancing. Tapi terlalu melelahkan. Rasanya hanya ingin merengkuh dalam diam. Bahkan pandanganku yang aku lihat secara logis, mereka kira aku selalu pencitraan. Bukan, bukan itu maksudku. Tapi ya sudah, apa bedanya aku kalau ikut emosi juga karena pendapat mereka?
Nyatanya, dalam situasi ini, diam dan bertindakpun tampak salah bagi mereka. Lalu, bagaimana? Oke, aku tidak peduli tentang pandangannya, aku hanya perlu bersikap yang menurutku baik.

Karena, segala kebaikan yang kita perbuat, maka akan kembali baik pada kita. Aku selalu percaya tentang itu.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...