Kerjaan yang semakin membludak ini bikin hal-hal yang selalu dipikirin perlahan kaya memudar gitu. Saking sempitnya ruang gerak jadi ga ada waktu sama sekali buat mikirin itu-itu lagi. Perlahan kaya coba buat ikhlas dan malah keasyikan yaudah sekarang fokus aja sama apa yang dikerjain, walaupun sebelum tidur tetep kepikiran tapi akhirnya malah kalah sama cape fisik yang malah ngebawa buat tidur dan istirahat. Ternyata ikhlas itu bukan sesuatu yang harus dipaksakan buat ikhlas secepatnya tapi ya menerima aja apa yang jadi realitasnya, karena semakin dipaksa buat ikhlas malah gabaik buat diri sendiri. Diri sendiri juga punya hak untuk berproses nerima realitasnya. Butuh waktu, lagi-lagi.
Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka? Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Komentar
Posting Komentar