Langsung ke konten utama

Melihat diri kedalam ..

Semakin melihat diri kedalam, semakin juga banyak sadarnya kalau diri sendiri banyak sekali kurangnya. Semakin males ribet entah itu urusan tentang pekerjaan atau urusan pribadi lainya. Ketika tentang lingkungan malah seringkali buat diri jadi makin insecure, diri yang lain pintar-pintar menahan diri, untuk tidak apa kalau merasa kurang karena katanya setiap manusia pasti ada kurangnya.

Semakin melihat diri kedalam, semakin sadar akan umur. Semua bukan lagi tentang haha-hihi, tapi tentang apa-apa yang jadi tanggung jawab. Semua bukan lagi tentang gengsi, ego dan apa-apa yang mengikat diri untuk jadi manusia yang tumbuh jadi lebih baik. Meskipun rasa takut dan khawatir terus berlanjut setiap harinya, diri yang lain juga pintar-pintar untuk memberanikan diri, untuk jadi berani pada hal-hal yang seringkali ditakuti. Walaupun rasanya sulit. Sangat sulit. 

Semakin melihat diri kedalam, semakin ingin terus memantaskan diri. Memantaskan diri untuk Tuhan, orangtua dan untuk diri sendiri. Tapi apa yang dikatakan pantas dan sampai kapan masih jadi misteri.

Semakin melihat diri kedalam, semakin sadar bahwa banyak sekali waktu yang terlewat, banyak sekali yang ditunda dan tertunda, banyak sekali yang lupa dan terlupakan, banyak sekali yang kurang dan banyak-banyak lainya yang tidak bisa disebut satu persatu.

Semakin melihat diri kedalam .. semakin ingin bilang sama diri sendiri supaya jangan banyak menyalahkan diri, jangan selalu banyak yang dipikirin, jangan terlalu baperan dan jangan banyak menunda segala sesuatunya. 

Semoga dengan sering melihatnya diri, bisa terus memperbaiki diri, semakin dewasa dan semakin memaafkan diri sendiri .. semoga ..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...