"Ji, kenapa ya semakin banyak interaksi sama orang lain, semakin diri sendiri lebih banyak sakit hatinya."
"Ya gimana, ya emang gitu, harus bisa nerima. Namanya juga bersosialisasi pasti begitu. Ya mohon maaf gimana ceritanya gak ada interaksi."
Sudah tau jawabanya, tapi lagi-lagi mengulang pertanyaan yang sama. Aku memang payah untuk yang satu ini. Seringkali menyalahkan diri sendiri atas apa-apa yang terjadi terutama saat berinteraksi dengan orang. Seringkali jadi orang yang merasa "ga asik atau ansos." Seringkali takut salah ngomong dan bikin sakit hati orang. Seringkali takut, takut jadi orang yang menyebalkan bagi orang lain dan masih banyak takut lainya. Pikiran-pikiran itu seringkali terngiang.
Namanya hidup. Coba disebelah mana hidup tapi tidak ada interaksi? Sekalipun tidak berucap apa-apa, apa yang kita lakukan adalah interaksi/ komunikasi untuk orang lain.
Entah sejak kapan, aku menjadi yang seperlunya, secukupnya. Sekalipun sudah mencoba seperti itu, terkadang masih saja merasa bersalah. Kadang sering terpikir oleh diri sendiri "seharusnya tadi aku ga ngomong gitu ya." Merasa ga enak. Terus aja begitu.
Aku ini sebenarnya kenapa?
Padahal kalau bisa dibilang, orang lain juga suka bikin diri ini sakit hati. Suka ngomong asal ngomong tanpa mikirin perasaan. Suka bodo amat. Kenapa sih?
Tapi itu kan haknya mereka juga untuk ngomong. Mungkin akunya aja yang baperan. Gapapa. Biar aku aja yang begini terus sampai menemukan solusi bagaimana seharusnya. Kata Mamah sih emang manusia itu semakin bertambah tua, semakin juga baperan. Jadi mungkin aku sudah tua wkwkwkwk.
Komentar
Posting Komentar