Langsung ke konten utama

Seperlunya, Secukupnya

"Ji, kenapa ya semakin banyak interaksi sama orang lain, semakin diri sendiri lebih banyak sakit hatinya."
"Ya gimana, ya emang gitu, harus bisa nerima. Namanya juga bersosialisasi pasti begitu. Ya mohon maaf gimana ceritanya gak ada interaksi."

Sudah tau jawabanya, tapi lagi-lagi mengulang pertanyaan yang sama. Aku memang payah untuk yang satu ini. Seringkali menyalahkan diri sendiri atas apa-apa yang terjadi terutama saat berinteraksi dengan orang. Seringkali jadi orang yang merasa "ga asik atau ansos." Seringkali takut salah ngomong dan bikin sakit hati orang. Seringkali takut, takut jadi orang yang menyebalkan bagi orang lain dan masih banyak takut lainya. Pikiran-pikiran itu seringkali terngiang.


Namanya hidup. Coba disebelah mana hidup tapi tidak ada interaksi? Sekalipun tidak berucap apa-apa, apa yang kita lakukan adalah interaksi/ komunikasi untuk orang lain. 


Entah sejak kapan, aku menjadi yang seperlunya, secukupnya. Sekalipun sudah mencoba seperti itu, terkadang masih saja merasa bersalah. Kadang sering terpikir oleh diri sendiri "seharusnya tadi aku ga ngomong gitu ya." Merasa ga enak. Terus aja begitu. 


Aku ini sebenarnya kenapa? 


Padahal kalau bisa dibilang, orang lain juga suka bikin diri ini sakit hati. Suka ngomong asal ngomong tanpa mikirin perasaan. Suka bodo amat. Kenapa sih? 


Tapi itu kan haknya mereka juga untuk ngomong. Mungkin akunya aja yang baperan. Gapapa. Biar aku aja yang begini terus sampai menemukan solusi bagaimana seharusnya. Kata Mamah sih emang manusia itu semakin bertambah tua, semakin juga baperan. Jadi mungkin aku sudah tua wkwkwkwk.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...