Langsung ke konten utama

Surat terbuka untuk ..

Aku menulis disini, karena aku tau, kamu mungkin tidak akan pernah inisiatif untuk membaca tulisan-tulisanku ini. Dan belakangan ini aku mulai sadar, bahwa aku perlu menuliskanya disini, untuk sekedar meluapkan emosi yang selama ini tertahan, berbaringan dengan rasa lelah yang ternyata sesabar apapun, rasa lelahnya tidak kunjung selesai.

Aku mengenalmu sudah cukup lama, tapi semakin kesini sifatmu sungguh membuatku lelah. Memang, kamu tidak pernah melakukan apa-apa. Mungkin masalahnya hanya ada di diriku sendiri, yang terlalu berekspektasi atau mengharapkan bantuanmu atau sekedar menemukan solusi yang bisa kita cari bersama. Tapi nyatanya, apa yang aku ekspektasikan, apa yang aku harap tidak sebanding dengan kenyataanya. Ya, ini semua memang salahku.

Kamu tau, sungguh aku selalu tidak suka dengan jawaban-jawabanmu, saat aku harus secara terpaksa meminta tolong kepadamu, karena keadaan yang memaksa. Aku juga sebenernya, cape dan sebisa mungkin aku mengerjakanya sendiri tanpa bantuanmu, karena sampai saat ini, apa yang kamu lakukan, bagiku juga, hanya seperti sebuah keterpaksaan. Kata "gabisa atau males" itu begitu terngiang-ngiang dikepalaku. Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu, sementara akupun juga sejujurnya merasakan yang sama, tapi aku hanya pendam sendiri. Bagaimana bisa kamu mengatakan itu, saat aku bersusah payah, mengerjakan segala sesuatunya dengan upaya terbaiku dan banyak hal lainya, yang tidak mungkin aku sebutkan satu-persatu. Bagaimana bisa, kamu banyak mengeluh, sementara aku mencoba sebisa mungkin untuk bersemangat setiap harinya. Kata-katamu itu, sungguh kadang menghancurkan semangatku. Bagaimana bisa ..

Hari ini, kembali aku berekspektasi pada hal yang sama. Mengharapkan bantuanmu dan kita dapat menemukan solusi bersama, nyatanya kamu hanya bilang "gabisa" dan diiringi dengan berbagai alasan, yang sejujurnya aku tidak butuh semua alasan itu. Aku cape. Aku butuh kita bekerja sama dengan baik. 

Tapi mulai hari ini juga, aku tidak akan berekspektasi banyak padamu lagi. Memang dari dulu juga, berekspektasi padamu adalah hal yang sia-sia. Harusnya aku belajar banyak atas pengalaman-pengalaman yang lalu, tapi nyatanya memang kejadianya terus berulang begitu saja.

Terimakasih karena telah mengajarkan banyak hal, salah satunya adalah tidak banyak berekspektasi denganmu lagi.

Terimakasih .. terimakasih sekali.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...