Langsung ke konten utama

Bagian sedihnya dan bagian bahagianya ..

Tahun 2022

Juli.

Banyak kabar baik dari sahabat, teman baik dan rekan yang satu persatu sudah menemukan kehidupanya, sudah menemukan rumah, sudah melahirkan, sudah sukses mendapat gelar dan sudah-sudah lainya yang saling sahut menyahut tanpa henti.

Memang tidak heran. Setiap orang berhak atas hal-hal baik dalam hidupnya atas usaha mereka sendiri yang kita tidak pernah tahu seberapa keras usaha seseorang untuk sampai di titik itu.

Tapi dari berita baik dari mereka yang sudah-sudah itu, tumbuh perasaan kecil yang entah mengapa hadir diantaranya.

Perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, tentang mau jadi apa diri ini kedepanya? Tentang rasa sedih, takut, kecewa, iri atas apa-apa yang belum sampai dititiknya seperti mereka yang sudah-sudah itu.

Bagian bahagianya mereka adalah bagian sedihku yang tidak ada sama sekali urusanya dengan siapapun. 

Ya. Tapi memang mungkin belum saatnya saja Tuhan mempercayakan beberapa hal yang diingini karena masih perlu banyak refleksi diri, masih perlu banyak memperbaiki apa-apa yang seharusnya diperbaiki.

Tapi terlepas dari perasaan itu .. 

Bagian bahagianya adalah banyak waktu dan ruang untuk orang-orang tersayang. Untuk lebih memperhatikan mereka, menjaga mereka, memberi ruang lebih pada mereka. Salah satunya adalah mewujudkan mimpi-mimpi mereka.

Terlalu pendek rasanya pemikiran ini jika masa depan hanya tentang apa-apa yang diingini.

Terlalu egois rasanya jika sering membandingkan diri dengan orang lain, sementara Tuhan sudah melebihkanku dengan cara terbaiknya.

Sedih, senang, kecewa dan perasaan lainya wajar ada di diri manusia, yang terpenting bagaimana caranya selalu bijak untuk selalu mengontrol setiap perasaan dengan tidak larut pada perasaan yang sama dalam waktu yang lama, karena akan membuang waktu untuk hal-hal baik kedepanya yang kita tidak pernah tahu kejutan apa didalamnya.

Baik-baik untuk hati, untuk setiap bagian sedihnya dan bagian bahagianya.

11 Juli 2022

Si mencoba mencurahkan hati dengan cara sebaik mungkin, ya apalagi kalau bukan ditulis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...