Tulisan kali ini, bukan sesuatu yang so so puitis lagi tapi tulisan yang nyata, tentang banyak orang yang menguras energi tentang mereka dan lingkunganku.
Di kehidupan ini, seringkali sadar kalau bagian sedih tidak selalu tentang diri sendiri, banyak manusia dan segala kesedihanya. Bahkan mungkin kesedihanku, tidak ada apa-apanya. Tapi ini bukan soal banding-membandingkan.
Ceritanya dimulai dari sini.
Kadang aku merasa kalau dunia ini masih terlalu baru buatku. Dahulu, aku selalu merasa lebih banyak dipertemukan dengan teman baik dan jarang sekali bertemu teman yang kurang menyenangkan.
Dunia terlalu menyenangkan kala itu.
Semakin dewasa, ternyata kata orang duniamu akan berubah ternyata itu benar adanya. Aku dihadapkan dengan manusia yang beragam kepribadian, kelas dan lain sebagainya.
Aku masih terlalu shock, bahkan mungkin sampai dengan detik ini.
Singkat cerita, kami bertemu. Dia yang awalnya terlihat baik, lama-lama jadi banyak menemukan hal-hal tidak menyenangkan bersama dia.
Oh iya, aku ceritakan hanya satu diantaranya saja dulu. Lain kali aku cerita lagi. Walaupun sebenarnya tidak penting untuk kalian, percayalah aku hanya ingin merelease perasaanku saja agar lebih baik.
Balik lagi, berawal dari cerita-cerita sederhana dan diskusi-diskusi kecil aku semakin mengenalnya bahwa dia adalah orang yang selalu ingin menang alias tidak mau kalah. Karena aku adalah orang yang malas berdebat aku seringkali lebih mengalah karena buatku menghadapi orang-orang seperti itu hanya menguras energiku. Jadi aku membiarkanya saja. Kadang berpura-pura bodoh agar dia bisa menang dengan pendapatnya. Kadang pula, aku merasa aku lebih tau darinya. Tapi yah sudahlah diamkan saja. Ada perasaan dimana aku juga ingin mengalahkanya karena dia terkadang terlalu egois juga. Tapi lagi-lagi aku memilih diam. Biarkan, biarkan dia semakin 'menjadi'. Apa bedanya aku denganya kalau begitu?
Tidak hanya selalu ingin menang, aku sebutkan lagi hal yang tidak aku sukai darinya. Dia, selalu merasa aku selalu mengambil bagianya. Padahal, jauh dari lubuk hati dan demi Tuhan aku sama sekali tidak berpikir untuk mengambil bagianya. Tapi lagi, kesekian dia menegurku katanya, jangan mengambil bagianya. Sudah banyak dalam hidupku yang perlu dilakukan, untuk apa aku mengambil bagianya?
Lagi,
Dia selalu berpikiran 'aku berpikiran buruk tentangnya'. Lagi-lagi demi Tuhan, tidak terpikir bahkan dihidupku untuk berpikiran buruk tentangnya. Sering dia bilang 'aku bilang ini, siapa tau kamu berpikiran buruk tentangku'. Hah?
Paling vokal tertawanya jika tentang keburukan orang lain. Tidak hanya tentang diriku yang sudah sangat sering ditertawakan, tapi juga orang lain. Ini yang paling tidak kusukai. Tapi tidak apa, mungkin dia adalah manusia paling sempurna di muka bumi, jadi dia adalah manusia yang paling berhak menertawakan orang lain.
Semua sikapnya itu, selalu aku biarkan begitu saja. Dahulu sekali, saat baru saja mengenalnya aku selalu berpikir bahwa mungkin apa yang aku lakukan selalu salah. Lama-lama ternyata, tidak baik juga selalu berada didekatnya. Mungkin jarak adalah hal yang paling baik untuku. Selain jauh-jauh dari rasa sakit hati yang sering timbul karena perlakuanya, jauh-jauh juga dari dosa, jauh-jauh juga dari dia yang kadang suka tidak tahu diri juga. Ya emang harusnya kita tuh tidak terlalu dekat sama orang sih.
Ini cerita tentang dia yang dalam hidupku sudah tidak lagi menjadi bagian baik dan menyenangkan. Mungkin aku juga jahat. Mungkin ini juga hanya dari ceritaku yang melihatnya selalu bagian buruknya saja. Mungkin, aku juga jadi bagian yang tidak menyenangkan dalam hidupnya dan mungkin juga dia punya pikiran yang lain tentangku. Tidak apa, semua berhak menilai kan ya? Karena akupun, menilainya berdasarkan penilaianku. Bagiku, yaa .. dia seperti itu. Banyak sekali cerita tentangnya yang tidak bisa dituliskan disini. Tapi setidaknya, perasaanku tersalurkan dengan baik.
Terimakasih sudah baca curhatanku yang tidak penting dan berantakan ini.
Besok-besok kita cerita lagi.
Komentar
Posting Komentar