Semakin hari, semakin sadar sekarang ini ibu jadi sering sakit, jarang tidur, jarang makan dan makin kurus. Rasanya sedih. Tapi seringkali bingung harus bantu apa. Ibu tetap bekerja dengan keras selagi anaknya sekarang sedang luntang-lantung tidak jelas. Rasanya sakit, tapi bagaimana lagi. Bahkan ingin mengeluhpun tidak akan pernah sebanding dengan penderitaan ibu, jadi sih harusnya aku lebih malu dan lebih bekerja keras lagi dari pada banyak mengeluhnya. Ibu, maaf ya bu, anaknya ini malah jadi sering menyusahkan. Ibu kalau cape jangan kerja terus, tidak apa-apa kalau istirahat. Ibu maaf juga belum bisa banyak membahagiakan, malah hidup aku gini-gini saja, tapi mohon tunggu sedikit lagi ya bu, barangkali kebaikan dan semua doa-doa ibu masih perlu sedikit lama untuk diwujudkan, anaknya ini memang sedang berusaha. Semoga saja peruntunganya segera datang.
Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka? Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Komentar
Posting Komentar