Langsung ke konten utama

3 hari setelahnya ..

Rasanya aneh. Setelah 3 hari memutuskan untuk berhenti dari hubungan ini rasanya seperti ada lubang menganga lebar di dada dan rasanya sakit sekali. Dan gatau kapan akan sembuhnya. Setelah banyak hal yang dilewati, dikira hubungan ini bakal terus lanjut dan jadi yang terakhir taunya ternyata sama seperti sebelumnya. Ya. apalagi kalau bukan berakhir. 

Aku memilih tidak banyak berbicara di hari terakhir karena sulit buatku bahkan berbicara sepatah katapun. Aku membiarkan kamu meluapkan semua yang kamu sesali dari aku. Dan yang aku tau, ternyata, dihari terakhir itu, kamu masih menyimpan luka-luka lalu dan aku rasa bagimu itu sulit termaafkan. Sedang aku? Aku juga sakit, sakit dengan hal-hal yang suka kamu lakuin ke aku, sifat kamu, kelakuan kamu, tapi sejujurnya aku lebih cepat lupa soal perasaan sakit yang pernah kamu lakuin ke aku. Dan memilih mengutarakanya langsung dan secepatnya agar tidak menumpuk didalam perasaanku sendiri.

Ya gimana lagi, semuanya udah terjadi. Kamu bahkan mungkin sudah bertekad sebulat mungkin untuk memutuskan hubungannya jauh sebelum aku. Kamu bahkan mengabaikan beberapa pesanku, permintaanku untuk ditemani, juga menghindari untuk membahas apapun soal hubungan kita di hari-hari terakhir. Sejujurnya, aku bahkan hanya sedikit terpikir untuk berpisah. Aku selalu yakin, ada banyak kesempatan lain yang bisa memperbaiki semuanya. Tapi ternyata semua pikiranku salah. Bahkan sepercaya apapun aku sama kamu, pada akhirnya seperti biasa aku selalu ditinggal oleh orang-orang yang pernah aku cintai seperti sebelumnya. 

Aku tidak menyalahkan kamu atas apapun disini, karena aku tau salahku banyak sekali. Bahkan kamu bisa secara detail menjelaskan semua kesalahanku dan hal-hal menyebalkan tentangku seperti apa-apa yang kamu sebutkan di hari terakhir itu. Tapi andai saja kamu lebih terbuka soal apapun, andai saja kamu memintaku untuk berubah, asal kamu tau, aku akan berusaha berubah dan rela melakukan apapun asal kamu minta. 

Ya udah. Mari kita melanjutkan hidup masing-masing. Ada banyak hal baik yang bisa kita ambil dari hubungan ini. Kita menata hidup lagi dan hidup secara sehat lahir dan batin. Kita sudah cukup dewasa untuk menentukan apa-apa yang akan kita lakukan kedepanya. Aku sebenarnya udah bosan mengucapkan maaf dan terimakasih, tapi aku ganti saja dengan doa-doa baik yang gak perlu aku sebutkan disini. 

"Selamat tidur Sani."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...