Langsung ke konten utama

1 Bulan Setelahnya ..

Aku gatau sih, apakah ini patut untuk diperingati atau bukan tapi yang jelas aku hanya terus teringat aja. Tanggal 3 di bulan lalu, hari menyedihkan dari sekian banyaknya hari menyedihkan dalam hidup aku. Walaupun masih sering banget ngerasain sakit hati, nangis, tapi aku sadar semuanya juga gakan ngerubah apapun. Aku cuma semakin ga paham sama semuanya tapi sebisa mungkin, aku menerima semuanya.

Kadang, aku masih bertanya-tanya, kenapa yaa kamu kaya gitu?
Apakah memang benar karena kamu gamau aku nunggu? atau apakah karena kamu udah ga suka lagi sama aku? atau apa karena kamu udah bosen sama aku? atau apa karena kamu udah cape sama sikapku? atau kamu udah benci banget sama aku? atau aku emang ga layak buat kamu? atau apakah kamu dapet pengaruh dan saran temen-temen kamu buat ga sama aku lagi? 
atau apakah karena kamu udah ada yang lain?

Ya sebenernya gapapa sih, cuma mungkin pertanyaan itu hadir karena aku belum bisa menerima kenyataan aja. Jujur, penjelasanmu masih kurang cukup buat aku. Kan kamu bilang salah satu alasanya cuma karena takut aku nunggu terlalu lama 2-3 tahun, kalau alasanya itu, kenapa ga bilang dari waktu itu atau setidaknya diskusi duluu, tapi waktu itu juga kamu bilang kalau kamu yakin sama aku, samaaa kamu bilang kamu mau ngobrolin pertanyaan-pertanyaan yang mau kamu tanyain itu, tapi ternyata bukan pertanyaan yang aku dapet.

Udah sebulan, tapi masih gitu-gitu aja. Cape banget rasanya. Sakit hati juga patah hati. kadang suka terngiang-ngiang janji kamu yang bilang gakan ninggalin aku. Aku waktu itu mau minta tolong karena ketakutan aja, tapi kayanya kamu juga terlalu takut kalau aku berharap lagi sama kamu, kalau kamu nolongin aku, kan? Aku jadi malu kenapa harus minta tolong sama kamu. Padahal kamu sendiri yang bilang aku boleh minta tolong apapun ke kamu. 

Apakah kamu sudah cukup bahagia dengan keputusan kamu itu sekarang?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...