Langsung ke konten utama

Oke, seperti biasanya aku mau ceritain perasaanku hari ini.

Pagi ini, aku bangun tidur lalu nangis sederas-derasnya air mata keluar. Ya, aku emang biasanya pagi nangis sih apalagi setelah hubungannya berakhir, tapi pagi ini nangisnya beda. Bener-bener yang, keluar semua energiku. Aku nangis karena perasaanku yang masih sakit, aku kangen, aku khawatir dan aku bertanya-tanya sebenernya kabar dia itu gimana, tapi aku gabisa ngapa-ngapain. Tapi, yang baru aku sadari, ternyata aku rasanya udah cape dengan ini semua. Hampir tiap hari, pagi, siang dan malem aku nangisin perasaanku yang sakit dan perasaan-perasaan lainnya, sampai bertanya-tanya, aku tuh sebenernya maunya apa sih?

Aku sadar, ternyata dia ga pernah nanyain kabarku sekalipun. Sekaliiiiii pun. Semenjak dia memutuskan untuk mengakhiri semuanya, dia bener-bener ga pernah tanya kabarku. Nanyain yang bener-bener dari inisiatif dan perasaan dia sendiri, belum pernah. Belum pernah. Inget ini, rasanya sakit ya? Aku jadi bertanya-tanya, sebenernya kenapa ya? kok bisa? maksudku, apakah setelah hubungannya selesai, perasaannya juga selesai begitu aja atau .. sebenernya udah sejak lama, perasaan dia bahkan buatku ga ada?

Iya ya? sekalipun ga pernah. Sementara aku disini bahkan sampe sekarang pun nulis ini nangis sama gemeteran, kaya aku kangen, khawatir dan pengen tau apakah dia disana baik-baik aja atau engga.

"Halo Sani, kamu gimana kabarnya btw semoga kamu selalu sehat dan baik-baik aja yaa." Ga ada pertanyaan .. ga pernah memulai .. Kamu, seingin ditanya itu kah Sani sama dia? Setolol itu kah kamu San?

San, kamu harusnya sejak dibuang, sadar kalau emang kamu engga sedicin .. itu. San, kamu inget siapa yang pertama kali bilang suka? pertama kali bilang sayang? coba, coba dipikirkan lagi San. Kamu sudah menurunkan banyak hal, ego, gengsi juga sabar. Tapi, setelah diakhiri, kamu bener-bener ga pernah dicari, atau sedikit deh ditanyain kabarnya. Bahkan .. minta vc aja langsung, di .. 

Pertama, kamu udah dibuang, tanpa dijelaskan detail dan diminta untuk cari tahu sendiri jawabannya. Kamu cuma dijelaskan, kalau itu cuma demi kebaikan kamu alias kamu udah tua San

Kedua, kamu ga pernah bahkan sekalipun ditanya kabar kamu San atau sekedar basa-basi. Selama ini, kamu yang wa duluan San, email duluan, ya walaupun ga minta dibales, tapi .. ga ada kah sekalii perasaan dia ingin bales atau apa ya, apa San? ngarep apa kamu setelah semua ini? Padahal kamu ga minta balikan .. 

Ketiga, dia bilang udah sejak lama memikirkan kalau dia mau mengakhiri hubungan sama kamu. "Udah sejak lama, San." yang berarti sejak lama juga kamu udah ga diharapkan lagi

Keempat, kelima, keenam ...

Ketujuh, kedelapan, kesembilan ...

San .. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...