Langsung ke konten utama

Setiap orang dan ujiannya

Aku tahu, kalau setiap orang punya ujiannya masing-masing. Entah itu keluarga, karir, percintaan, pernikahan dan masih banyak lagi. Semua orang dengan ujiannya dan ketakutannya masing-masing. Kalian suka merasa kaya aku juga ga sih? Kaya, pas lagi dapet ujiannya rasanya kaya dunia ini ga adil banget, jahat banget, kadang suka kepikiran juga "Ko Allah, kasih ujiannya gini banget ya?." Padahal diluar sana, banyak orang yang punya ujiannya lebiiiih dari kita, tapi mereka berjuang dengan ketakutannya sendiri dalam diam. 

Tapi ini bukan tentang ga bersyukur ya, adakalanya kita juga merasa cape dengan keadaan yang gitu-gitu aja, udah sering berdoa sesering mungkin, udah berusaha dekat dengan Allah, tapi masih belum ada perubahan. Menurutku, itu hal wajar kok.
Dan kayanya, kita emang harus mengeluh sama orang yang tepat, bukan cuma mengeluh dalam doa aja. Biar ga jadi gila sendirian, syukur-syukur punya orang yang selalu bikin nyaman dan menenangkan kamu selagi kamu ngerasa takut dan khawatir dengan banyak hal.

Kadang suka kepikiran dan malu, kalau diri ini bawaanya ngeluh terus. Tapi, gimana yaa. Sejujurnya kadang, aku takut aku jadi gila karena ga bisa cerita. Walaupun yang diceritain hanya 30% dari semua cerita yang ingin diceritakan. Karena aku tau, tiap orang sedang berjuang juga. 

Disini, aku cuma ingin meyakinkan diri, kalau aku mungkin bisa lewatin ujiannya seperti biasa. Rasa patah hati karena ditinggal orang yang disayang, rasa cemas dan khawatir ngeliat keluargaku yang sakit, rasa takut karena belum dapet kerjaan tetap dan keuangan yang belum stabil, rasa takut juga karena apakah aku bakal bisa nemuin orang yang tepat atau engga dan banyak hal lainnya, itu semua ujian yang mungkin akan aku lewati. Aku bisa dan aku kuat. 

Walaupun sejujurnya, rasanya belakangan ini berat banget. Bahkan kemarin sampai menahan malu ngechat dia buat cerita kekhawatiran dan ketakutanku. Tapi jujur, walaupun dibalesnya singkat, aku merasa sedikit tenang, tapi lebih banyak malunya karena tiba-tiba curhat, padahal mungkin dia ga nyaman sama aku lagi. Makasih yaah. Doain aku semoga aku bisa cepet move on dari kamu dan ga ganggu lagi. Tapi jujur, kemarin aku rasanya takut banget dan dipikiranku, aku cuma pengen cerita sama dia doang.

Sekarang, tiap hari rasanya gelisah. Selalu ingin cerita, tapi gatau sama siapa. 
Aku suka bertanya-tanya juga, sebenernya tulisan-tulisanku disini, ada yang baca ga ya? Tapi, kalaupun ada yang baca, ya buat apa juga sih. Niatnya emang mau curhat aja supaya ga jadi wanita gila.

Oh, ngomongin soal gila.
Kayanya, aku berencana untuk ke psikolog lagi deh. Tapi aku gatau kapan. Lagi ngumpulin uang dulu. Atau aku solo trip ya? wkwkwk supaya healing ceritanya, tapi kaya yang banyak duit aja. Tapi amin deh.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...