Langsung ke konten utama
Sebenernya, dari dulu aku benci banget sama momen malem. Tapi entah kenapa, aku tiba-tiba lupa beberapa waktu lalu karena aku selalu ditemenin dia tiap malem, even cuma vc-an atau chattan sebentar. Belakangan ini, aku mulai ngerasa, aku benci malem lagi. Buatku, momen malem itu, momen yang paling menakutkan dan banyak alasan aku benci malem.

Ya, buatku malem adalah momen yang tiap harinya hampir banyak ovt-nya. Belum lagi, malem itu waktu di mana kita lengah sama banyak hal, kamu tau ga? setiap tidur malem, dalam diri aku, secara tidak sadar aku selalu dalam mode waspada. Aku bisa mendengar banyak suara kecil, bau-bauan dan masih banyak lagi. Aku seringkali jadi orang pertama yang menyadari adanya gempa, atau hal-hal lainnya. Malemku, tidak pernah tenang. Aku bisa bangun lalu berlari ketika mendengar sesuatu atau teriakkan. Aku bisa mencium bau-bau, lebih dari yang lain. Bahkan, aku pernah mematikan gas yang bocor, disaat yang lain tertidur pulas karena aku mencium bau dan suara walaupun suaranya kecil. Aku selalu berpikir, bahwa aku selalu harus jadi orang pertama di rumah, yang menyelamatkan keluarga dan itu tertanam dalam bawah sadarku. Jadinya, jarang sekali, aku tidur tenang dan nyenyak.

Entah kenapa, beberapa waktu lalu, aku lupa akan hal itu. Aku tidur lebih baik dan nyenyak karena aku tau, aku akan aman kalau sama dia even dia jauh disana. 

Dan aku baru sadar sekarang,
ternyata kehadiran seseorang dalam hidup aku itu, banyak merubah hidup aku, terutama mental. Aku yang orangnya banyak khawatirnya, takutnya dan ovt-nya butuh seseorang yang selalu ada disamping buat menenangkan, dan kebetulan waktu itu dia hadir.
Aku juga baru sadar sekarang, ternyata balik lagi ke situasi dimana aku harus sendiri lagi, butuh mental yang lebih dibanding sebelum aku ketemu dia. 

Rasanya kaya triple kill. 

Katanya, untuk mengubah kebiasaan itu perlu waktu 2 bulan. Tapi rasanya ini udah 2 bulan lebih dan aku masih merasa belum sembuh perihal itu.
Ditambah lagi, sekarang khawatirnya semakin bertambah karena mamah yang lagi sakit. Rasanya dadaku sakiiiiit banget. Sesek. Kaya ditonjok-tonjok, tiap harinya. Aku tau, aku gakan kenapa-napa dan aku tau, aku pasti bisa lewatin semuanya, karena ini bukan yang pertama kalinya. Tapi, aku cape. Aku butuh dipeluk dan ditenangkan. Kadang aku ngerasa, aku butuh juga seorang kakak atau siapapun itu. 
Aku butuh diyakinkan, kalau aku ga sendirian. Tapi, hari-hari itu, rasanya ga akan pernah ada lagi. Aku belum terpikir untuk memulai lagi, apalagi sekarang dengan banyak ujiannya. 

Aku, bisa ga ya, ketemu orang yang bisa bikin aku ngerasa tenang dan aman lagi? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...