Langsung ke konten utama
Hari yang melelahkan. Seperti biasanya.
Bangun tidur tadi pagi, mataku bengkak wkwk. Karena semalem, sambil aku nulis diary disini, aku nangis banget ngebayangin Biru punya pacar lagi huhu. Bayangin kan, ngebayangin Biru punya pacar aja, aku senangis itu dan sepatah hati itu. Padahal kan yaudah gimana, kenyataanya hidupnya Biru juga perlu berlanjut.

Biru, kalau biasanya aku selalu ngeluh, hari ini aku mau menulis jurnal syukur. Pas bangun tidur tadi, selain aku liat mataku yang bengkak, aku liat rambutku yang makin panjang. Biasanya, kalau aku lagi patah hati dan sedih banget, aku selalu potong rambut. Kali ini, aku ga potong rambut lagi. Aku inget, kalau kamu suka cewe rambut panjang kan Biru? Liat deh rambutku makin panjang, pasti kalau kamu liat, kamu bakal bilang aku cantik 'kan?

Aku juga bersyukur, hari ini aku masih bisa makan. Tapi aku baru makan sekali sih. 
Walaupun hampir tiap harinya, aku takut uangku semakin menipis wkwk karena aku harus bisa menghidupi aku adikku dan orang tuaku, bayar ini itu yang ga berhenti sama sekali. 

Aku juga bersyukur masih bisa bertahan sampai dengan saat ini, aku ga nyerah walaupun hampir setiap hari aku nangis. Biru, kamu pasti bangga kan sama aku?

Satu lagi Biru, walaupun sedih dan ga pernah aku ceritain ke siapapun. Orang tuaku juga disana lagi berjuang. Bapakku yang biasanya jualan Kupat Tahu keliling disini, sekarang bapakku kerja jualan kopi keliling di pasar sana. Kamu tau ga Biru selama hampir beberapa minggu ini, bapakku jualan dan dengan segala dramanya. Aku cuma bisa nangis, sedih karena sebagai anak gabisa bantu apa-apa. Tapi, aku juga bisa apa ya. Maksudku, aku juga harus hidup. Aku juga berusaha sebaik mungkin sebisaku saat ini, jadi gapapa ya Biru, kalau mampuku sekarang cuma sampai disini dulu? Gapapa yaa kalau aku belum jadi "apa-apa" dulu? 

Kadang, aku juga mikir, Biru, dengan kondisiku ini kelak nanti, aku bakal dipertemukan dengan cowo yang mau nerima aku apa adanya ga ya? Dengan cerita keluargaku, dengan aku yang umur 30 tahun, dengan aku yang sekarang belum jadi "apa-apa", dengan aku yang banyak kurangnya ini?
Mungkin, sebenernya Tuhan tuh belum kasih aku kesempatan karena aku belum jadi "apa-apa" dan belum bisa bantu orang tua. Mungkin sebenernya, Tuhan pengennya aku bantu mereka terus sampai nanti, yang entah sampai kapan.

Biru, kalau selama bareng kamu aku selalu berdoa semoga kita selalu didekatkan dan dijodohkan, setelah kamu memutuskan buat pergi, aku ga pernah meminta dan berdoa lagi soal jodoh. Bahkan, aku ga pernah berdoa lagi soal itu. Aku takut. Rasanya, semakin aku ingin sesuatu, semakin aku dijauhkan akan hal itu. Aku cuma ingin percaya, kalau takdir akan menemukan aku sama hal-hal baik kedepannya. 


Biru, aku juga masih sayang sama kamu. Tapi aku juga ga meminta apapun lagi, sekalipun aku ingin ditemenin terakhir kali, aku akan menguburnya lagi dalam-dalam. Aku kangen kamu Biru. Duh kenapa ya nangis terus. Ada banyak hal yang ga mungkin lagi buat kita. Dan aku tau itu.
Aku takut juga, kalau tulisan-tulisan tentang kamu disini, malah memberatkanmu. Tapi aku ga pernah bermaksud soal itu. Aku cuma pengen, kamu jadi temen ceritaku, seperti biasanya. Walaupun mungkin tulisan ini, ga akan pernah sampai ke kamu. 

Tapi Biru, aku masih berharap ada satu titik dimana kamu masih ingin tau kabarku walaupun sedikit. Dan jawabanku, aku sebenernya ga baik-baik aja, tapi aku akan selalu berusaha baik-baik aja, demi kamu yang selalu bangga sama aku, demi kamu juga yang selalu bikin aku pede dengan bilang aku cantik.

Selamat tidur Biru. Love u.
Besok aku ada ujian, doain aku ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...