Langsung ke konten utama

"San, maafin yaa mamah belum jadi mamah yang baik."

Pagi ini, seperti biasa dengan rutinitasku di rumah yang ga ngapa-ngapain dan segala pikiran-pikirannya. Dan seperti biasa juga, mamah selalu meneleponku di pagi hari untuk sekedar menanyakan disini hujan atau tidak atau menanyakan apakah sudah makan apa belum. Tapi ada yang beda pagi ini. Di ujung suara sana, suara mamah yang selalu menenangkan tiba-tiba bilang "San, maafin ya mamah belum jadi mamah yang baik." Seketika mulutku jadi gagu. Setiap kali mamah bilang kata-kata mengharukan, aku selalu bingung harus menjawab apa. Seharusnya, bukan mamah yang minta maaf, seharusnya sudah jelas adalah aku. Rasa-rasanya aku belum menjadi anak yang baik, belum jadi anak yang membanggakan dan belum juga jadi anak yang bisa bikin mamah tenang. Satu lagi, belum juga bisa mewujudkan semua harapan mamah. Walaupun hatiku sedih, tiap kali mamah mengucapkan sesuatu yang mengharukan, walaupun rasanya ingin sekali menangis didepannya, tapi aku tau, hal tersebut tidak serta merta menjadikan semuanya jadi lebih baik. Aku harus berusaha sebaik mungkin agar tidak banyak membuatnya khawatir lebih lagi. 

Mah, Pak sabar yaa sedikit lagi. Doakan semoga anaknya ini jadi lebih baik lagi dan bisa mewujudkan keinginan kalian, doakan juga supaya rezekinya dilancarkan. Aku janji, akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa terus menghidupi kalian sampai aku mati. Doakan ya mah, sedikit lagi. 
Semoga mamah, bapak dan ade selalu sehat terus dan dimudahkan segala urusannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...