Langsung ke konten utama
Udah hampir 3 minggu belum jenguk orang tua, selain karena sakit, cuaca yang jelek karena hujan terus, aku juga masih kejar tayang buat apply kerjaan dan jualan supaya bisa ngasih uang ke orang tua dan buat makan tentunya. Beberapa udah ada interview, yang lainnya tes-tes. Barusan pas nelepon mamah, suaranya aga serak, aku tau kayanya mamah lagi kurang sehat tapi beliau gamau bilang ke aku karena takut aku khawatir. Habis nelepon, aku nangis. Sedih. Apakah ini namanya homesick? Atau aku terlalu cape sama semuanya yang belum ada perkembangan yang baik? Mungkin keduanya kali ya.
Intensitas menangisku semakin hari, semakin sering. Apalagi di rumah sekarang lebih sering sendirian, jadinya aku bisa nangis tanpa takut orang lain tau. 
Cape. Tapi, aku tau ngeluh terus malah bikin energi jadi negatif. Aku tau, kedepannya bakal baik-baik aja dan aku tau, aku bisa lewatin ini semua.
3 hari ini, aku cape ngerjain pekerjaan rumah yang ga beres-beres, aku cape masak, aku cape harus mengerjakan ini dan itu dan mentalku yang semakin down. Aku liat rambut rontokku dimana-mana, aku liat tubuhku yang semakin kurus, aku liat mukaku yang ga pernah lagi pake make up, padahal make up adalah bagian paling membahagiakan dalam keseharianku, aku jarang mandi karena aku terlalu cape. Aku berlebihan ga ya kaya gini? Aku ga pernah keluar rumah lagi bahkan untuk jalan-jalan pun, aku takut. Aku takut. Aku takut melihat pergelangan tanganku yang isinya tinggal tulang. Juga pikiranku yang berkecamuk tiap harinya. Apa aku bakal baik-baik aja? Aku khawatir dengan kondisi keluargaku, tapi kehidupan juga harus terus berlanjut kan? 
Aku bisa. Besok-besok kamu mandi ya San, kamu dandan yang cantik, kamu makan, kamu jalan-jalan. Gapapa kok sendirian, gapapa ceritanya disini aja. Gapapa. Ayo bahagia San. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...