Aku gatau harus cerita sama siapa, aku gatau harus mulai dari mana tapi hari ini aku takut. Hari ini, aku nganter bapak ke IGD. Bapak sakit. Aku beneran bingung. Takut juga, tapi aku gatau harus cerita ke siapa. Aku yang urus semuanya, rasanya kaya jalan berat banget tapi harus bisa. Di kasir sempet pengen nangis tapi ditahan. Ya Allah sembuhin Bapak ya. Tahun ini rasanya berat banget. Tapi ya Allah, izinin aku buat tetep kuat ya, aku anak pertama yang harus tanggung jawab sama semuanya jadi aku harus kuat. Aku harus bisa handle semuanya. Kuat San. Kalau mau nangis, nangis gapapa kok. Walaupun tahun ini rasanya bagian nangisnya banyak banget ga berenti-berenti bahkan hampir tiap hari. Cape, takut, bingung. Pengen minta tolong tapi gatau sama siapa.
Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka? Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Komentar
Posting Komentar