Part paling melelahkan dari semua ini adalah drama orang tuaku sendiri. Meskipun aku tau, mereka juga khawatir tentangku, tapi aku lebih khawatir dengan kondisi mereka dibanding kondisiku. Mamah, yang marah sama Bapak karena sakit, juga karena mamah khawatir sama biaya-biaya rumah sakit karena mamah bilang, mamah ga punya uang. Bapak yang gamau untuk di rujuk ke rumah sakit, juga khawatir karena katanya takut ga punya uang dan mungkin beliau khawatir kalau memang harus penanganan lebih lanjut, misal operasi, tapi aku tau, bapak pasti ngerasain sakit banget, cuma karena mamah marah jadinya ditahan. Aku terlalu cape berusaha meyakinkan mereka kalau aku bisa tangani semuanya, dan ga perlu khawatir. Aku terlalu cape sama itu semua. Mungkin akan berjalan lancar, kalau mereka tidak khawatir soal uang. Aku tau, mereka khawatir karena aku belum bekerja. Tapi maksudku, aku ingin mereka sehat dan aku rela melakukan apapun asal mereka sehat. Aku cape, aku pengen mereka ga terlalu khawatir sama banyak hal, aku pengen mereka cuma ikutin kata aku aja. Ikutin kata aku, untuk ngikuti semua prosedur kesehatan dan lanjut periksa ke rumah sakit. Aku masih mampu kok. Aku rela melakukan apapun, jadi plis mah, pak, tolong yaa nurut aja. Tolong, aku pengen kalian sehat. Kemarin di IGD, harusnya aku lanjut aja yaa jangan pulang ke rumah dulu. Jadinya makin susah dibawa ke RS. Tapi semoga Bapak gak kenapa-kenapa yaa, semoga ya Allah. Sedih banget ngeliat Bapak nangis. Tapi beliau juga mungkin ga enak sama aku, sama mamah. Mamah Bapak emang selalu merasa ga punya uang, tapi mereka terlalu takut dan mungkin ga enak kalau mengandalkan aku terus, aku paham banget. Tapi ditengah kondisi darurat ini, seharusnya mereka mengerti kalau aku bertindak demi mereka. Aku sebenernya ga ada energi untuk cerita, atau berisik. Tapi aku tau, aku ga baik-baik aja, aku tau mental dan fisikku sekarang lagi down makanya aku memilih buat bercerita disini, barangkali meringankan beban.
Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka? Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Komentar
Posting Komentar