Langsung ke konten utama

Part paling melelahkan dari semua ini adalah drama orang tuaku sendiri. Meskipun aku tau, mereka juga khawatir tentangku, tapi aku lebih khawatir dengan kondisi mereka dibanding kondisiku. Mamah, yang marah sama Bapak karena sakit, juga karena mamah khawatir sama biaya-biaya rumah sakit karena mamah bilang, mamah ga punya uang. Bapak yang gamau untuk di rujuk ke rumah sakit, juga khawatir karena katanya takut ga punya uang dan mungkin beliau khawatir kalau memang harus penanganan lebih lanjut, misal operasi, tapi aku tau, bapak pasti ngerasain sakit banget, cuma karena mamah marah jadinya ditahan. Aku terlalu cape berusaha meyakinkan mereka kalau aku bisa tangani semuanya, dan ga perlu khawatir. Aku terlalu cape sama itu semua. Mungkin akan berjalan lancar, kalau mereka tidak khawatir soal uang. Aku tau, mereka khawatir karena aku belum bekerja. Tapi maksudku, aku ingin mereka sehat dan aku rela melakukan apapun asal mereka sehat. Aku cape, aku pengen mereka ga terlalu khawatir sama banyak hal, aku pengen mereka cuma ikutin kata aku aja. Ikutin kata aku, untuk ngikuti semua prosedur kesehatan dan lanjut periksa ke rumah sakit. Aku masih mampu kok. Aku rela melakukan apapun, jadi plis mah, pak, tolong yaa nurut aja. Tolong, aku pengen kalian sehat. Kemarin di IGD, harusnya aku lanjut aja yaa jangan pulang ke rumah dulu. Jadinya makin susah dibawa ke RS. Tapi semoga Bapak gak kenapa-kenapa yaa, semoga ya Allah. Sedih banget ngeliat Bapak nangis. Tapi beliau juga mungkin ga enak sama aku, sama mamah. Mamah Bapak emang selalu merasa ga punya uang, tapi mereka terlalu takut dan mungkin ga enak kalau mengandalkan aku terus, aku paham banget. Tapi ditengah kondisi darurat ini, seharusnya mereka mengerti kalau aku bertindak demi mereka. Aku sebenernya ga ada energi untuk cerita, atau berisik. Tapi aku tau, aku ga baik-baik aja, aku tau mental dan fisikku sekarang lagi down makanya aku memilih buat bercerita disini, barangkali meringankan beban.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...