Beberapa hari ini, aku jadi lebih sering berpikir untuk mengubur semua mimpi-mimpi aku. Hari-hariku sekarang, lebih banyak mendengar tangisan Bapak dan Mamah, bahkan untuk menangis aja aku gabisa. Aku gakan berharap dulu untuk menikah atau punya anak, punya suami juga, kalau kata Biru aku sebentar lagi monopause berdasarkan perhitungan dia. Lagian, lelaki mana yang akan menerimaku? Kan? Aku juga mengubur mimpiku untuk kerja di Jakarta, karena kasian Mamah sama Bapak nanti siapa yang urus. Selain itu, aku juga mengubur mimpiku untuk jalan-jalan liburan solo trip tanpa keluargaku, atau sekedar makan enak diluar sendiri, aku udah mengurangi semuanya, karena setiap kali aku mencoba makan di luar sendirian, pikiranku cuma keluargaku. Kasian mereka. Mimpiku dan doaku sekarang, aku sangat berharap Bapak sembuh seperti sedia kala tumornya sembuh, begitupun juga Mamah semoga sembuh diabetesnya dan adikku juga semoga sembuh kistanya, aku? aku semoga selalu disehatkan semoga kami terus kumpul bersama-sama, dan semoga aku dimudahkan rezeki dan segera mendapatkan pekerjaan. Rasanya menyakitkan liat Mamah dan Bapak yang hampir menangis setiap hari. Saling mengkhawatirkan satu sama lain, tapi gabisa berbuat apa-apa. Aku juga berharap semoga keajaiban itu datang, semoga. Aku selalu berharap itu.
Bapakku. Aku tau, dia merasa ga enak sama istri dan anaknya. Beliau jadi lebih sensitif. Bahkan, sepertinya semenjak sakit dan divonis, aku ga pernah menemukan lagi senyumnya. Aku kangen. KANGEN BANGET. Aku kangen Bapak dan segala aktifitasnya, walaupun kadang suka bikin bete. Tapi sekarang aku kangen. Aku kangen Bapak. Dadaku sesek, tapi aku berusaha keras menahan tangis, bukan berupaya so tegar, tapi aku juga gamau buat Mamah dan Bapak merasa sedih karena aku. Aku udah bertahan sejauh ini, dan semoga selalu bertahan. Bapak jadi sering bilang "Maaf yaa jadi merepotkan." "Uangnya ada?." "Kalau ga ada uangnya nanti aja." Bapak sering menahan kemauannya karena tau sekarang sakit dan takut merepotkan anak dan istrinya. Sakit hati. Nyesek. Kenapa semuanya jadi kaya gini. Aku masih belum nerima kenyataan. Aku gapapa kan terus bilang kalau aku masih belum nerima kenyataan? Karena buatku kaya masih berasa mimpi buruk, ngeliat Bapak di kasur terus. Kadang aku ngerasa kaya diriku linglung, otakku sering ngefreeze. Susah banget bahkan untuk mencerna semuanya. Aku cuma berharap, aku selalu baik-baik aja dan bisa menghandle semua dengan baik dan kepala dingin, ga gegabah mengambil keputusan, emosi yang stabil dan jadi pengganti Bapak di rumah dengan dewasa. Ya. Kalau bukan kamu siapa lagi San.
Aku juga berdoa, semoga lukaku yang lain disegerakan sembuh. Sudah hampir setahun, bukankah seharusnya sembuh ya? Mau sampai kapan, sungguh aku cape.
Komentar
Posting Komentar