Langsung ke konten utama

12 Januari 2026

Beberapa hari ini, aku jadi lebih sering berpikir untuk mengubur semua mimpi-mimpi aku. Hari-hariku sekarang, lebih banyak mendengar tangisan Bapak dan Mamah, bahkan untuk menangis aja aku gabisa. Aku gakan berharap dulu untuk menikah atau punya anak, punya suami juga, kalau kata Biru aku sebentar lagi monopause berdasarkan perhitungan dia. Lagian, lelaki mana yang akan menerimaku? Kan? Aku juga mengubur mimpiku untuk kerja di Jakarta, karena kasian Mamah sama Bapak nanti siapa yang urus. Selain itu, aku juga mengubur mimpiku untuk jalan-jalan liburan solo trip tanpa keluargaku, atau sekedar makan enak diluar sendiri, aku udah mengurangi semuanya, karena setiap kali aku mencoba makan di luar sendirian, pikiranku cuma keluargaku. Kasian mereka. Mimpiku dan doaku sekarang, aku sangat berharap Bapak sembuh seperti sedia kala tumornya sembuh, begitupun juga Mamah semoga sembuh diabetesnya dan adikku juga semoga sembuh kistanya, aku? aku semoga selalu disehatkan semoga kami terus kumpul bersama-sama, dan semoga aku dimudahkan rezeki dan segera mendapatkan pekerjaan. Rasanya menyakitkan liat Mamah dan Bapak yang hampir menangis setiap hari. Saling mengkhawatirkan satu sama lain, tapi gabisa berbuat apa-apa. Aku juga berharap semoga keajaiban itu datang, semoga. Aku selalu berharap itu.

Bapakku. Aku tau, dia merasa ga enak sama istri dan anaknya. Beliau jadi lebih sensitif. Bahkan, sepertinya semenjak sakit dan divonis, aku ga pernah menemukan lagi senyumnya. Aku kangen. KANGEN BANGET. Aku kangen Bapak dan segala aktifitasnya, walaupun kadang suka bikin bete. Tapi sekarang aku kangen. Aku kangen Bapak. Dadaku sesek, tapi aku berusaha keras menahan tangis, bukan berupaya so tegar, tapi aku juga gamau buat Mamah dan Bapak merasa sedih karena aku. Aku udah bertahan sejauh ini, dan semoga selalu bertahan. Bapak jadi sering bilang "Maaf yaa jadi merepotkan." "Uangnya ada?." "Kalau ga ada uangnya nanti aja." Bapak sering menahan kemauannya karena tau sekarang sakit dan takut merepotkan anak dan istrinya. Sakit hati. Nyesek. Kenapa semuanya jadi kaya gini. Aku masih belum nerima kenyataan. Aku gapapa kan terus bilang kalau aku masih belum nerima kenyataan? Karena buatku kaya masih berasa mimpi buruk, ngeliat Bapak di kasur terus. Kadang aku ngerasa kaya diriku linglung, otakku sering ngefreeze. Susah banget bahkan untuk mencerna semuanya. Aku cuma berharap, aku selalu baik-baik aja dan bisa menghandle semua dengan baik dan kepala dingin, ga gegabah mengambil keputusan, emosi yang stabil dan jadi pengganti Bapak di rumah dengan dewasa. Ya. Kalau bukan kamu siapa lagi San.

Aku juga berdoa, semoga lukaku yang lain disegerakan sembuh. Sudah hampir setahun, bukankah seharusnya sembuh ya? Mau sampai kapan, sungguh aku cape.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...