Langsung ke konten utama

22 Januari 2026

Biru, seperti malem-malem sebelumnya malem ini aku ngerasa takut banget. Sejak Bapakku sakit hidupku setiap detik rasanya takut. Aku ga pernah nyangka hidupku bakal seperti ini, aku sedih, takut, bingung.

Kadang rasanya aku marah dan kecewa sama Allah atas semua takdir ini, tapi di sisi lain, aku juga cuma manusia yang ga bisa apa-apa selain berharap dan berdoa sama Allah semoga Bapak dan keluargaku baik-baik aja.

Aku harus gimana ya?

Aku harus cerita sama siapa ya?

Aku bener-bener gatau. Bahkan untuk nangis pun, aku ga punya ruang. Aku selalu berusaha tegar didepan keluargaku, padahal aku runtuh-seruntuh-runtuhnya. 

Gimana yaa kehidupanku kedepannya?

Gimana yaa keadaan Bapakku kedepannya? Kenapa yaa Bapakku tiba-tiba dikasih ujian seberat ini? 

Gimana yaa keadaaan keluargaku kedepannya? Mamah? Adikku? 

Aku takut.

Selama hampir 2 bulan ini, aku selalu tidur sama Bapak dan Mamah. Setiap kali ngeliat mereka tidur, ketakutanku semakin memuncak. Aku selalu memastikan mereka masih bernapas dengan liat perut mereka. Aku setakut itu.

Aku ga berani lagi tidur dengan lampu gelap, aku selalu ingin memastikan aku ngeliat keluargaku setiap waktu, Mamah, Bapak dan Adikku. Hari-hariku sekarang ga pernah luput dari rasa takut dan doa yang ga pernah berhenti.

Bapakku, kemungkinan harus kontrol tiap bulan. Mungkin juga harus kemoterapi. Tiap kali mikir Bapak harus kontrol, dan isi fyp Tiktokku yang isinya tentang kemoterapi, aku rasanya takut, aku sebenernya ga ingin cari tau tentang banyak hal terutama tentang sakit Bapakku, tapi aku memaksakan diri buat nyiapin mentalku dan keluargaku. Aku harus tau apa saja kemungkinan yang terjadi, biar aku bisa menjelaskan ke Mamah dan Adikku. Rasanya berat dan melelahkan. Tapi aku mikir, kalau aku gatau apa-apa mungkin aku bakal menyesal karena aku ga bantu banyak untuk berusaha biar Bapak sembuh, meskipun aku takut kalau harus cari info tentang sakit Bapak. 

Aku ga pernah punya rasa semangat lagi, bahkan untuk sekedar beraktifitas. Lagi-lagi, tiap harinya aku cuma bertahan dan memaksakan diri ditengah mentalku yang ga baik-baik aja. Aku sampai mikir, apakah aku perlu ke psikolog untuk sekedar punya temen cerita? Atau ngeluapin emosiku sebentar sambil cari solusi?

Biru, aku tau cerita ini bahkan ga akan pernah sampai ke kamu. Bahkan untuk kamu baca aja rasanya ga mungkin. Kalau kebetulan kita ketemu dalam waktu dekat ini, kamu bisa peluk aku ga? Aku pengen nangis aja. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...