Langsung ke konten utama

8 Januari 2026

Kadang di sela-sela rasa sedih sama ujian ini, aku kangen ditanyain Biru. Atau sekedar ditanya apa kabar. Tapi aku tau, itu gakan pernah ada buatku. Malah mungkin aku mikirnya, dia bakal ngetawain aku, kaya makan tuh ujian hidup, karma kan lu? Aku tau, aku suudzon banget tapi gatau kenapa, itu selalu muncul juga dipikiranku. Tapi aku mungkin ga perlu ganggu dia lagi, kayanya dia lagi bahagia juga dengan jalan hidupnya, kayanya udah cukup, kasian juga sama Biru, siapa tau aku menutup jalan-jalan dia kedepannya, ya, aku berdoa semoga Biru bahagia dan selalu dalam lindungan-Nya dimanapun berada. Juga untungnya, aku terlalu sibuk mengurus Bapak jadi kadang, aku sedikit lupa kesedihanku yang lain. Walau, kalau lagi bengong istirahat sebentar, suka tiba-tiba keingetan Biru dan merasa nyesek sakit hati, yang aku sendiri ga tau kenapa harus kaya gini terus.

Tadi, sehabis ashar setelah bersihin Bapak, terus Bapak shalat ashar. Selesai shalat, Bapak tiba-tiba nangis.
"Kenapa ya Bapak jadi kaya gini."
"Ini udah berapa lama Bapak kaya gini?"
Aku bingung harus merespon apa, aku cuma bilang "Gapapa, nanti juga sembuh."
Bapak nangis. Aku paham banget, Bapak masih denial sama semuanya. Masih belum menerima kenyataan kalau Bapak sakit dan sekarang gabisa ngapa-ngapain. Mungkin dalam pikirannya, Bapak sebenernya berpikir kalau besok atau besoknya lagi Bapak bisa duduk dan berdiri, lalu jalan-jalan, tapi faktanya tubuhnya ga bisa. Makanya, walaupun sudah 1 bulan, Bapak masih denial. Masih shock dan bingung secara mental, berbanding terbalik dengan tubuhnya.

Ga cuma Bapak, aku juga sejujurnya masih denial. Masih berasa mimpi. Aku berharap ini cuma mimpi buruk, tapi aku tau faktanya engga. Tapi pikiranku berkecamuk terus seperti itu. Setiap ngurus Bapak, aku selalu ga berhenti-hentinya berdoa. Aku udah ga pernah nangis lagi. Aku pikir, aku denial dan mencoba terlalu kuat di depan keluargaku yang lain. Aku yang orangnya panic attack, takut liat darah, takut naik ambulance, mendadak semuanya berani. Aku memaksakan diri, karena di rumah kalau bukan aku siapa lagi, demi Bapak. Aku lagi berpikir, apakah aku perlu ke psikolog? Aku terlalu takut kalau suatu saat nanti, emosiku berubah menjadi hal-hal buruk lainnya. Aku takut emosi memuncak dengan tidak baik, tapi semoga engga dan semoga aku bisa mengontrol emosiku dengan baik, sekarang dan kedepannya.

Ya, gitu aja rilis emosi hari ini. Masih dengan doa yang sama, semoga Bapak lekas kembali sembuh. Dan semua keluargaku dikuatkan dengan ujiannya. Juga dimudahkan rezekinya dan dilancarkan. Karena sekarang, aku lagi bingung untuk beli obat dan peralatan kesehatan Bapak, sementara Mamah dan Adikku juga ga bekerja, tapi aku percaya rezeki ga akan kemana.
Tabunganku udah banyak berkurang dan aku juga punya hutang yang lumayan untuk biaya ambulance Bapak dan kebutuhan hidup lainnya yang aku sendiri gatau kapan bisa lunasinnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka?  Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Mulai hari kemarin, aku janji ga akan pernah mempertanyakan apapun lagi. Ternyata, semakin mempertanyakan dan semakin berisik malah buat diri sendiri makin cape. Alih-alih menghabiskan rasa sakit, semakin hari malah semakin sakit. Toh, seberisiknya pun jawabannya ga akan pernah ketemu. Aku akan berusaha memperbaiki diri dan fokus dengan mimpi-mimpi yang lain. Berusaha memaafkan apa yang sudah terjadi, ya walaupun lukanya masih menganga lebar, aku percaya kalau ikhlas akan memberikan aku hal-hal yang baik kedepannya. Sekarang aku tau, makna setara itu jauh lebih luas dari apa yang aku kira. Bukan soal materi saja, tapi bersikap, pola pikir, mengambil keputusan, emosional dan masih banyak lagi. Barangkali yang lalu-lalu memang perlu diakhiri karena masing-masing masih mencari apa makna setara sebenernya, mungkin, yang terakhir kemarin pun juga begitu. Baginya, aku mungkin belum setara. Bagiku, juga mungkin sama, dia belum setara denganku. Bahkan, mungkin keputusan yang dia pilih, itu ben...

Hari ke-24

Hari ke-24 setelah kamu memutuskan untuk ninggalin aku. Aku masih sering nangis, keingetan kenangan-kenangan kita. Semakin hari, semakin ngerasa sepi sama hampa. Aku penasaran sama perasaan kamu, gimana ya? apakah kamu baik-baik aja tanpa aku?  Kalau aku, jujur engga. Masih aneh dan menyakitkan rasanya. Ditambah kamu yang berulang kali bilang "aku udah janji sama diriku sendiri untuk ga ngasih harapan lagi sama kamu." Padahal tanpa kamu bilang pun, aku udah tau batasannya. Aku udah tau aku harus berhenti dan aku udah tau ga akan pernah ada lagi ruang buat aku di hati kamu, aku cukup sadar diri atas semuanya kok.  Aku malah berpikir, mungkin karena kamu udah ga respek lagi sama aku, disana, kamu punya orang lain yang lebih baik dari aku dan akhirnya kamu bisa move on secepat itu. Ya, walaupun sebenernya gapapa sih, hak kamu juga, tapi aku sedih sih.  Aku masih berjuang dengan lukaku sendiri yang gatau kapan akan sembuhnya. Aku udah ga punya energi lagi bahkan untuk ngapa-n...