Kadang di sela-sela rasa sedih sama ujian ini, aku kangen ditanyain Biru. Atau sekedar ditanya apa kabar. Tapi aku tau, itu gakan pernah ada buatku. Malah mungkin aku mikirnya, dia bakal ngetawain aku, kaya makan tuh ujian hidup, karma kan lu? Aku tau, aku suudzon banget tapi gatau kenapa, itu selalu muncul juga dipikiranku. Tapi aku mungkin ga perlu ganggu dia lagi, kayanya dia lagi bahagia juga dengan jalan hidupnya, kayanya udah cukup, kasian juga sama Biru, siapa tau aku menutup jalan-jalan dia kedepannya, ya, aku berdoa semoga Biru bahagia dan selalu dalam lindungan-Nya dimanapun berada. Juga untungnya, aku terlalu sibuk mengurus Bapak jadi kadang, aku sedikit lupa kesedihanku yang lain. Walau, kalau lagi bengong istirahat sebentar, suka tiba-tiba keingetan Biru dan merasa nyesek sakit hati, yang aku sendiri ga tau kenapa harus kaya gini terus.
Tadi, sehabis ashar setelah bersihin Bapak, terus Bapak shalat ashar. Selesai shalat, Bapak tiba-tiba nangis.
"Kenapa ya Bapak jadi kaya gini."
"Ini udah berapa lama Bapak kaya gini?"
Aku bingung harus merespon apa, aku cuma bilang "Gapapa, nanti juga sembuh."
Bapak nangis. Aku paham banget, Bapak masih denial sama semuanya. Masih belum menerima kenyataan kalau Bapak sakit dan sekarang gabisa ngapa-ngapain. Mungkin dalam pikirannya, Bapak sebenernya berpikir kalau besok atau besoknya lagi Bapak bisa duduk dan berdiri, lalu jalan-jalan, tapi faktanya tubuhnya ga bisa. Makanya, walaupun sudah 1 bulan, Bapak masih denial. Masih shock dan bingung secara mental, berbanding terbalik dengan tubuhnya.
Ga cuma Bapak, aku juga sejujurnya masih denial. Masih berasa mimpi. Aku berharap ini cuma mimpi buruk, tapi aku tau faktanya engga. Tapi pikiranku berkecamuk terus seperti itu. Setiap ngurus Bapak, aku selalu ga berhenti-hentinya berdoa. Aku udah ga pernah nangis lagi. Aku pikir, aku denial dan mencoba terlalu kuat di depan keluargaku yang lain. Aku yang orangnya panic attack, takut liat darah, takut naik ambulance, mendadak semuanya berani. Aku memaksakan diri, karena di rumah kalau bukan aku siapa lagi, demi Bapak. Aku lagi berpikir, apakah aku perlu ke psikolog? Aku terlalu takut kalau suatu saat nanti, emosiku berubah menjadi hal-hal buruk lainnya. Aku takut emosi memuncak dengan tidak baik, tapi semoga engga dan semoga aku bisa mengontrol emosiku dengan baik, sekarang dan kedepannya.
Ya, gitu aja rilis emosi hari ini. Masih dengan doa yang sama, semoga Bapak lekas kembali sembuh. Dan semua keluargaku dikuatkan dengan ujiannya. Juga dimudahkan rezekinya dan dilancarkan. Karena sekarang, aku lagi bingung untuk beli obat dan peralatan kesehatan Bapak, sementara Mamah dan Adikku juga ga bekerja, tapi aku percaya rezeki ga akan kemana.
Tabunganku udah banyak berkurang dan aku juga punya hutang yang lumayan untuk biaya ambulance Bapak dan kebutuhan hidup lainnya yang aku sendiri gatau kapan bisa lunasinnya.
Komentar
Posting Komentar