Selasa, 20 September 2017
Pukul 02.51
Terbangun dan emang gak bisa tidur karena merasa ga enak perut dan bingung mau ngapain.
Maafkan kegabutan ini, yang menjadikan aku semakin sering
menulis diary di blog. Semakin gabut, semakin banyak yang dipikirkan. Aku
sebenernya gak mau gabut dan gak suka gabut, tapi waktu yang ngebuat ini semua.
Tapi tenang, akan ada saatnya aku ga gabut lagi dan akan ada saatnya nulis di
blog ini menjadi waktu yang sangat sulit. Sebentar lagi. yah. Sebentar lagi.
Tunggu sedikit lagi.
Tulisan ini mewakili keputusan aku untuk mengubur cita dan
cinta demi prioritas. Eh, tapi lebih dari prioritas. Demi masa depan. Karena
aku anak pertama yang “akan” segera menjadi tulang punggung keluarga dan
bertanggung jawab atas kehidupan adik dan orang tua di masa yang akan datang.
Tentang keputusan yang berat, tapi selalu yakin akan ada yang lebih baik dari
apa yang diputuskan.
Aku pernah cerita di blog ini juga, kalo sejak SMP aku
“cinta” dunia broadcast. Salah satunya aku pengen jadi penyiar. Awalnya, karena
aku bacain dongeng di salah satu radio anak pada jamannya “Kids Radio Bandung”
dan dari situ first impression-nya sangat menyenangkan. Suka. Suka banget. Dan
kecintaan itu terus berlanjut sampai SMA.
Kelas 3 SMA, aku pengen kuliah tapi aku gak berharap banyak
soal kuliah. Mengingat jadi mahasiswa katanya “sangat sulit” ditambah lagi
beban orang tua yang harus membiayai kuliah. Tapi, berkat salah satu guru, aku
dipaksa untuk masuk kuliah dan ikut seleksi karena katanya aku sangat
berpotensi. Aku ikutin aja kata ibu guru itu. Orang tua juga setuju, dan aku
juga emang mau banget kuliah ehehehehe.
Awalnya, aku memutuskan untuk sekolah broadcast aja dari
pada kuliah, bapak aku juga setuju. Tapi Allah berkata lain, Allah ingin aku
mewujudkan cita-cita aku jadi penyiar atau memberi jalan aku buat mencoba
menjadi seorang penyiar setidaknya sekali dalam hidup.
Pertama aku milih Fakultas Hukum, tapi aku mikir lagi, kalo
aku kuliah di hukum, aku harus ngapalin Undang-Undang dan tektekbengeknya.
Emang yah pikirannya pendek. Aku coret. Terus aku pilih Fisip sosiologi, karena
aku suka sosiologi, tapi terlalu biasa. Aku coret. Terus lihat Fakultas ilmu
Komunikasi? Ih, apaan ini? Komputer meureun yah? Aku pilih. Oke, fine. Ilmu
tentang komputer yah? Ini adalah efek kurangnya informasi. Oh, oke. Pilihan
kedua? Hm .. FIB fakultas ilmu budaya sastra Indonesia? Mantap. Ceklis.
Oh, iya itu pilihan Universitas pertama yaitu Unpad.
Universitas kedua, tidak lain dan tidak bukan yaitu UPI. Pilihannya sama. Cuman
beda urutan. Pertama pendidikan sastra Indonesia, kedua Fakultas Ilmu
Komunikasi. Oke. Fix. Ceklis.
Dan pengumuman penerimaan pada akhirnya jatuh kepada pilihan
pertama Universitas Padjadjaran dengan pilihan pertama Fakultas Ilmu
Komunikasi. Searchinglah, apa itu Fakultas Ilmu Komunikasi. Menurut Wikipedia
......................................................................
Hah? Apaan ini? Oh, bukan komputer geningan. Oh, bisa jadi
penyiar. Wah. Excited banget banget banget. Akhirnya.
Dan diterimalah aku di Fakultas Ilmu Komunikasi. Kemudian,
semakin excited karena cita-cita jadi penyiar didukung juga dengan jurusan yang
dipilih.
Sebenernya, ada kontra juga sih. Mamah aku gak setuju aku
jadi penyiar, karena alasannya jadi penyiar ituuuuuuuu yah gitu deh.
Suatu hari, di kampus, ada open recruitment jadi penyiar
radio. Aku adalah tipe orang yang kurang percaya diri. Aku ambisi banget buat
jadi penyiar, tapi di sisi lain, aku gak percaya diri dengan potensi yang aku
punya.
Aku ikutlah audisi itu. Di wawancara dan segala
tektekbengeknya. Dan diterima. Hah? Diterima. Jingkrak-jingkrak bahagia.
Mungkin buat kalian biasa aja sih, tapi buat aku ini luar biasa karena sejak
dulu aku pengen banget jadi penyiar, walaupun ini hanya radio streaming tapi
aku excited banget. Sukaaaa banget. Gatau deh mau ngomong apalagi. Speechless.
Seiring berjalannya waktu, aku menikmati menjadi seorang
penyiar. Bahagia. Siaran adalah mood booster terbaik dalam hidup aku. Bisa
dengerin lagu terus-terusan, bisa ngomong-ngomong didepan microfon bisa mainin
mixer dan yah gitulah. Aku mencintai semuanya.
Menjelang skripsi. Aku mikir. Aku harus fokus buat nyelesain
skripsi. Aku harus selesai tepat waktu. Dan pada akhirnya memutuskan untuk
tidak siaran lagi. Sedih. Sedih banget. Jadi penyiar adalah moodbooster terbaik
selama hidup aku. Tapi itu adalah keputusan. Aku lulus tepat waktu. Singkat
cerita aku abis wisuda belum dapet kerja. Walaupun ada beberapa panggilan
perusahaan, tapi aku ngerasa belum cocok. Yaudah, berdoa aja. Bukan
pilih-pilih, tapi emang gak cocok aja. Oke, skip yang ini.
Next.
Ada lowongan di salah satu radio di Bandung. Aku mikir lagi.
Aku pengeeeeeeeeen banget. Tapi kayanya udah gak bisa lagi. Aku harus fokus
sama kerjaan. Aku harus fokus sama karier aku demi masa depan. Karena jadi
penyiar, kasarnya, aku gak bisa membantu keluarga dengan menjadi seorang
penyiar. Dan mulai hari ini, aku memutuskan untuk tidak lagi ingin menjadi
penyiar walaupun aku sangat amat ingin. Entah aku harus mengubur cita-cita ini,
atau di lain waktu ada kesempatan lain sambil kerja sambil siaran aku juga
bingung. Tapi, untuk saat ini, aku harus mengubur dulu kesenangan yang satu
ini. Ada prioritas yang lebih penting. Semoga ini menjadi keputusan terbaik.
Komentar
Posting Komentar