Gimana yaa hidup ku besok-besok? Masih bisa makan ga ya keluargaku? Duh, tiap hari rasanya degdegan banget. Bingung harus ngapain lagi. Apa usaha sama doaku kurang keras ya? Sebenernya aku mencoba pasrah dan ikhlas, tapi takut juga, karena semua bergantung sama aku. Ada banyak yang harus aku bayar, tapi aku bingung uangnya dari mana. Gapapa san, semoga banyak dibukakan pintu rezeki yaa. Jangan nyerah. Hari ini coba tidur dulu, besok kita berpikir lagi. Jangan bergadang terus pliss. Kamu harus tidur. Hidup udah terlalu melelahkan, ga punya temen cerita, jadi kamu harus tetep berjuang. Semoga besok ada rezeki buat keluargaku yaa. Amin.
Malem ini, gabisa tidur. Aku masih nangisin yang sama dan gatau kenapa tiba-tiba pengen buka chat ini yang buatku masih menyakitkan. Aku tahu, aku seharusnya ga boleh kaya gini terus, tapi aku juga ga mau membohongi dan memendam perasaanku sendirian. Lagi, mungkin bosan tapi aku sakit hati. Sakit hati yang belum sembuh. Isi chatnya emang terlihat singkat dan sepele. Tapi, ga ada habisnya bikin aku menerka-nerka banyak hal dan jujur mentalku juga ga baik-baik aja dengan apa yang udah terjadi. Maksudku, kenapa kamu ga menjelaskan aja semuanya tanpa kurang satupun, biar aku bisa lebih lega. Apakah seperti biasa, kamu meminta aku untuk peka? Lagi, sayang. Aku ga sepeka itu, berulangkali aku bilang aku ga sepeka itu. Setidaknya, kalau kamu memang sudah dirasa ga cocok sama sifatku, aku ga keberatan untuk itu. Aku akan lebih lega dan mencoba menerimanya. Tapi mungkin kamu bakal bilang, aku denial. Kamu bilang, aku harus ngerti. Iya, aku ngerti umurku lebih tua, aku tua, aku tau itu. Kam...
Komentar
Posting Komentar